Sabtu, 01 Desember 2012

Periode Da'wah Terbuka


[Enter Post Title Here]


Periode Da'wah Terbuka hingga Upaya Hijrah ke Habasyah dan Thaif

A.    Makna Periode Da'wah Terbuka bagi Perjuangan Da'wah Islam
Dakwah  terbuka merupakan  langkah awal Islam  dalam  perkembangannya secara pesat. Setelah tiga tahun berlalu lamanya Rasulullah berdakwah memperkenalkan Islam kepada orang per orang dgn sembunyi-sembunyi. Dakwah rahasia ini berakhir setelah turun
perintah Allah swt. untuk memberi peringatan kepada keluarga besar terdekat Nabi saw:
Berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman. Jika mereka mendurhakaimu, katakanlah, “Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kalian kerjakan.” (QS asy-Syu’ara [26]: 214-216).
     Sedikit demi sedikit mulai banyak yg menerimanya. Maka kemudian Rasulullah ingin menyampaikan secara terang-terangan. Sebelum Rasulullah berdakwah secara terang-terangan, Rasulullah menjamu makan malam sederhana kepada kaum Bani Hasyim (keluarga besar Rasulullah). Dalam acara tersebut Rasulullah mengajak kabilah Bani Hasyim untuk mengikuti langkah atau ajaran Islam. Hasil yang didapatkan adalah mereka tidak menggubris ajakan Rasulullah, bahkan meninggalkan tempat jamuan sebelum acara tersebut berakhir.
Di lain waktu, acara jamuan tersebut diadakan kembali. Kali ini para tamu undangan mulai mendengarkan perkataan Rasulullah. Namun, tak satupun dari mereka yang meresponnya secara positif. Hal tersebut tidak membuat Rasulullah dan para sahabatnya patah arah, tetapi membuat Rasulullah dan para sahabatnya semangat dan dakwahnya semakin diperlebar. Hingga suatu ketika Rasulullah mengadakan pidato terbuka di bukit Sofa. Pidato tersebut berisi perihal kerasulannya. Rasulullah memanggil seluruh penduduk Makkah dan mengabarkan kepada mereka bahwa dirinya diutus untuk mengajak mereka meninggalkan “Paganisme” (Penyembahan terhadap berhala). Beliau menjelaskan bahwa Tuhan yang wajib disembah hanyalah Allah. Mendengar hal tersebut masyarakat Quraisy tersentak kaget, mereka sangat marah karena hal tersebut dan menghina tradisi nenek moyang dan kehormatan mereka. Para pembesar Quraisy membentak dan memaki Rasulullah dengan keras. Mereka menganggap bahwa Muhammad adalah orang gila. Bahkan pamannya sendiri Abu Lahab pun mengancam Rasulullah dengan keras. Seiring berjalannya waktu, dakwah secara terang-terangan terus dilakukan.
Bersamaan dengan itu pula, perlawanan dari kalangan pembesar Quraisy seperti Abu Sofyan, Abu Lahab, Ummayah, dan Utbah bin Rabi’ah semakin gencar. Para penentang tersebut mulai melancarkan aksi permusuhan kepada Rasulullah dan para sahabat. Para pengikut yang berasal dari kalangan lemah dan tertindas sering mendapatkan siksaan yang berat. Mereka tidak lagi memandang bahwa Muhammad adalah anggota kabilah Bani Hasyim, hanya saja tekanan-tekanan terhadap Rasulullah tidak mereka lakukan secara langsung, karena mereka masih menghargai Abu Thalib dan para anggota Bani Hasyim lainnya. Setelah mendapatkan siksaan yang bertubi-tubi dari kaum Bani Hasyim, maka kaum muslimin hijrah ke Abesinia (Ethiopia). Hijrah kaum muslim tersebut terbagi menjadi dua gelombang. Gelombang pertama berjumlah 11 orang pria dan 4 wanita. Mereka kembali ke Makkah justru Quraisy menyiksa kaum muslimin lagi. Ternyata sesampainya di Makkah justru Quraisy menyiksa kaum muslimin lebih kejam dari yang sebelumnya. Oleh karena itu, maka kaum muslimin berhijrah kembali untuk yang kedua kalinya ke abesinia dengan rombongan yang lebih besar, yakni orang pria tanpa wanita. Mayoritas penduduk Abesinia beragam nasrani (kristen) dan dipimpin oleh Raja Najasi Negus. Para masyarakat Abesinia menghormati kaum muslim untuk tinggal di sana sampai setelah Nabi hijrah ke Madinah.


B.     Faktor Pendukung Gerakan Da'wah Nabi secara Terbuka 
“Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik. Sesungguhnya Kami memelihara kamu daripada (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan (kamu)” (QS. Al-hijr [15] : 94-95).
Ayat di atas merupakan perintah tegas Allah swt. kepada nabi agar memulai langkahnya untuk berdakwah secara terang-terangan.Tatkala Rasulullah saw. memperlihatkan Islam secara terang-terangan kepada kaumnya dan menampakkan perintah Allah kepada mereka secara terbuka, saat itu orang-orang Quraisy tidak mengutuk beliau dan tidak memberikan reaksi, kecuali ketika suatu saat beliau menyebut-nyebut tuhan-tuhan mereka dan menghinanya. Tatkala beliau melakukan hal itu, seketika mereka menjadikan persoalan tersebut sebagai persoalan yang besar mereka menentangnya.
Meningkatnya frekuensi siksaan dan upaya menghabisi Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam merupakan faktor utama yang mendukung dakwah ini. Begitu juga dengan masuk Islamnya sejumlah tokoh Quraisy. Hal ini menambah keberanian Nabi saw. untuk berdakwah secara terbuka.

Di tengah suhu yang diliputi awan kezhaliman dan penindasan, tiba-tiba muncul seberkas cahaya yang menyinari jalan, yaitu masuk islamnya Hamzah bin Abdul Muththalib ra. Dia masuk Islam pada penghujung tahun ke-6 dari kenabian, lebih tepatnya pada bulan Dzulhijjah. 

            Di tengah suhu yang sama pula, seberkas cahaya yang lebih benderang dari yang pertama kembali menyinari jalan. Itulah, keislaman 'Umar bin al-Khaththab. Dia masuk Islam pada bulan Dzulhijjah, tahun ke-6 dari kenabian, yaitu tiga hari setelah keislaman Hamzah ra. Nabi saw. memang telah berdoa untuk keislamannya sebagaimana hadits yang dikeluarkan oleh at-Turmuziy (dan dia menshahihkannya) dari Ibnu 'Umar dan hadits yang dikeluarkan oleh ath-Thabraniy dari Ibnu Mas'ud dan Anas bahwasanya Nabi saw. bersabda: "Ya Allah! muliakanlah  Islam ini dengan salah seorang dari dua orang yang paling Engkau cintai: 'Umar bin al-Khaththab atau Abu Jahal bin Hisyam". Ternyata, yang paling dicintai oleh Allah adalah 'Umar ra.

Dari Shuhaib bin Sinan ar-Rûmiy ra. dia berkata:"ketika 'Umar masuk Islam, barulah Islam menampakkan diri dan dakwah kepadanya dilakukan secara terang-terangan. Kami juga berani duduk-duduk secara melingkar di sekitar Baitullah, melakukan thawaf, mengimbangi perlakuan orang yang kasar kepada kami serta membalas sebagian yang diperbuatnya".

C. Al-'Ibrah dari Da'wah  Terbuka Nabi Muhammad  saw
Respon negatif dari sanak Nabi saw. secara khusus dan dari masyarakat suku Quraisy secara umum terhadap dakwah Nabi saw. merupakan jawaban bagi orang-orang yang beranggapan bahwa agama ini lahir dari fanatisme kebangsaan. Sudah menjadi perkara yang wajar bila Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memulai dakwah terbukanya dengan memberi peringatan kepada kerabat dan kaumnya, karena kota Makkah dahulu sangat dikungkung fanatisme kesukuan. Sehingga memulai dakwah kepada kaumnya sangat membantu dalam pembelaan dan dukungan dan perlindungan kepada beliau dan dakwahnya. Khususnya gerakan dakwah di Mekah yang menjadi sentral agama penting. Sehingga mengislamkan Makkah memiliki pengaruh besar dan penting bagi kabilah dan suku di sekitarnya. Hal ini tidak berarti dakwah islam pertama kali terbatas pada Quraisy saja, karena Islam hanya menjadikan Quraisy sebagai lahan dakwah pertama untuk langkah awal mewujudkan ajarannya yang universal dan mendunia.
Lambatnya perkembangan jumlah orang-orang yang masuk Islam saat itu merupakan bahwa adat istiadat dan tradisi selalu mengakar kuat di dalam masyarakat yang berabad-abad hidup dalam gelapnya jaman Jahiliyah dan kerusakan moral. Situasi dan kondisi seperti ini juga tidak jarang dihadapi oleh para dai, khususnya di tengah-tengah masyarakat muslim yang di dalamnya seruan untuk mengikuti sunnah-sunnah Rasul tengah melemah. Dalam kondisi seperti ini, para dai akan menjimpai sisa-sisa adat dan tradisi yang masih mengakar cukup kuat dan mempengaruhi setiap gerak langkah masyarakat tersebut di dalam berbagai lapangan kehidupan.
Turunnya perintah khusus kepada Rasul-Nya agar berdakwah dan menyampaikan kepada sanak kerabatnya terlebih dahulu mengisyaratkan adanya tingkat tanggung jawab yang harus dipikul oleh setiap muslim dan para dai khususnya. Perintah mengingatkan keluarga disini menunjukkan tanggung jawab setiap muslim dan para da'i secara khusus dalam pembinaan dan pendidikan keluarganya. Jangan sibuk berdakwah sedang keluarga terbengkalai tidak terbina. Seperti kita saksikan, Rasulullah saw. memilki tanggung jawab terhadap dirinya sendiri sebagai seorang mukallaf. Setelah itu, beliau memiliki tanggung jawab terhadap keluarga sebagai kepala keluarga dan terhadap seluruh manusia dalam kapasitasnya sebagai seorang Nabi dan utusan Allah swt.
Dari sudut pandang ini, maka setiap muslim yang telah mukallaf  memilki tanggung jawab yang sama dengan Nabi saw. baik dalam kapasitas sebagai individu maupun kepala keluarga. Adapun tingkatan yang terakhir, tanggung jawab diemban oleh para ulama dan pemimpin terhadap orang-orang yang mereka pimpin.
Demikian sebagian faedah dan pelajaran yang dapat dicatat, Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bis-showaab
    Auliyaur Rohman, Mishbahuddin, Ali Fitriana Rahmat
Poskan Komentar