Minggu, 24 Maret 2013

IMAN DALAM PERSPEKTIF KAJIAN PERBANDINGAN HADITS



BAB I
PENDAHULUAN
Dalam bahasa arab asal kata iman
terdiri dari tiga huruf (أ) hamzah (م) mim dan (ن) nun yang mempunyai dua arti asal yaitu: tenangnya hati dan membenarkan. Salah satu asma Allah swt adalah al-mukmin, yang berarti kebenaran janji Allah swt memberikan pahala terhadap hambanya memang.[1] Orang yang beriman dikatakan mukmin karena ia membenarkan dan meyakini sesuatu disertai kemantapan dan ketenangan di dalam hatinya. Pengertian ini senada dengan arti yang ada dalam kamus besar bahasa indonesia. Iman dalam KBBI memilki arti kepercayaan atau keteguhan hati.[2]
Menurut  ulama mutakallimin mengartikan iman dengan meyakini dan membenarkan. Hampir semua orang islam mengetahui apa itu iman, apa saja rukun nya dan lain sebagainya. Tetapi tulisan ini tidak akan membahas secara mendalam mengenai hakikat iman dan keterkaitannya. Penulis hanya akan menyajikan kajian perbandingan hadits yang bertemakan keimanan dengan mencuplik segelintir hadits saja.
Sub tema kajian ini akan meliputi tentang malu, bersikap ramah terhadap tamu dan tetangga, berkata baik, niat sebagai landasan perbuatan, naik turunnya iman, cinta Nabi saw, cinta saudara, dan seterusnya.
Kajian perbandingan hadits ini bersumber dari sepuluh hadits yang termuat dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim. Perbandingan ini akan terfokus pada analisa matan dan sanad, yang masing-masing akan menguliti teks hadits dan sejarah singkat perawi. Dengan kajian seperti ini nantinya diharapkan untuk mempermudah penelaah hadits dalam men-takhrij suatu hadits.
           

BAB II
PEMBAHASAN
KEIMANAN DALAM PERSPEKTIF HADITS NABI SAW
1. Niat Sebagai Landasan Suatu Amal Perbuatan
a. Riwayat Shahih Bukhari
54 - حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ، قَالَ: أَخْبَرَنَا مَالِكٌ، عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ، عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ وَقَّاصٍ، عَنْ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «الأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ، وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا، أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ»[3]
Amal-amal perbuatan seseorang tergantung dengan niatnya, orang yang berhijrah semata-mata karena Allah dan Rasul-Nya akan mendapat pahala hijrah. Sedangkan orang yang berhijrah karena dunia atau seorang wanita yang ingin ia nikahi, ia akan mendapat apa yang telah ia niatkan.
v  Analisa Matan:
ü  Al-a'mal bi an-Niyah : seluruh ibadah syari'ah tidak sah kecuali dengan adanya niat.[4]
ü  Dunya : mencakup harta, perniagaan, istri cantik, nama baik, dll.

v  Analisa Sanad :
ü  Umar bin al-Khathab bin Nufail bin Abdul Uzza al-Qurasyi al-'Adawi, dilahirkan 13 tahun setelah tahun gajah. Ada yang meriwayatkan bahwa ketika Umar masuk islam, jumlah muslim ketika itu masih 40 laki-laki dan 11 perempuan. Beliau wafat pada hari Rabu tanggal 26 Dzulhijjah tahun 23 H. Beliau adalah khalifah pertama yang dipanggil dengan sebutan Amirul Mukminin.[5]
ü  Alqamah bin Waqqash al-Laitsi al-Utwari al-Madani, meninggal dunia di Madinah pada masa pemerintahan Abdul Malik.[6]
ü  Muhammad bin Ibrahim bin al-Harits al-Qurasyi at-Taymi al-Madani, wafat pada tahun 119 H.  menurut  riwayat lain pada tahun 120 H.
ü  Yahya bin Said al-Madani, seorang Qadhi Madinah meninggal pada tahun 143 H.[7]

ü  Malik bin Anas bin Malik bin Abi Amir bin Amr bin Harits al-Ashbahi, tinggal di Madinah. Beliau dijuluki dengan Imam dar al-Hijrah dan Syeik al-Aimmah. Beliau wafat pada umur 90 tahun di Madinah tepatnya pada tahun 179 H. Al-Bukhari berkomentar: Sanad yang shahih yaitu dari Malik dari Nafi' dari Ibnu Umar.
ü  Abdullah bin Maslamah bin Qa'nab al-Madani al-Qa'nabi, tinggal di Bashrah wafat pada tahun 221 H.
b. Riwayat Shahih Muslim
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ بْنِ قَعْنَبٍ حَدَّثَنَا مَالِكٌ عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ وَقَّاصٍ عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَإِنَّمَا لاِمْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ »[8]
Sesungguhnya Amal-amal perbuatan seseorang tergantung dengan niatnya, orang yang berhijrah semata-mata karena Allah dan Rasul-Nya akan mendapat pahala hijrah. Sedangkan orang yang berhijrah karena dunia atau seorang wanita yang ingin ia nikahi, ia akan mendapat apa yang telah ia niatkan.
v  Analisa Matan:
ü  Al-a'mal bi an-Niyah : hadits ini mencakup sepertiga islam. As-Syafi'i berkata : hadits ini masuk dalam 70 bab fiqh.[9]
v  Analisa Sanad : semua perawi sama dengan riwayat Bukhari.
v  Perbandingan :
ü  Al-Bukhari tanpa innama sedangkan Muslim menggunakannya, Bukhari menggunakan likulli  sedangkan Muslim hanya dengan li.
ü  Tidak perbedaan perawi, mulai Umar bin al-Khattab sampai al-Bukhari dan Muslim.
ü  Hadits ini diriwayatkan oleh semua kutub as-sittah dan semua kitab hadits kecuali al-Muwatha'.[10]
2. Iman, Islam dan Ihsan
a. Riwayat Bukhari
حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ قَالَ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ أَخْبَرَنَا أَبُو حَيَّانَ التَّيْمِيُّ عَنْ أَبِي زُرْعَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَارِزًا يَوْمًا لِلنَّاسِ فَأَتَاهُ جِبْرِيلُ فَقَالَ مَا الْإِيمَانُ قَالَ الْإِيمَانُ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَبِلِقَائِهِ وَرُسُلِهِ وَتُؤْمِنَ بِالْبَعْثِ قَالَ مَا الْإِسْلَامُ قَالَ الْإِسْلَامُ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ وَلَا تُشْرِكَ بِهِ وَتُقِيمَ الصَّلَاةَ وَتُؤَدِّيَ الزَّكَاةَ الْمَفْرُوضَةَ وَتَصُومَ رَمَضَانَ قَالَ مَا الْإِحْسَانُ قَالَ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ قَالَ مَتَى السَّاعَةُ قَالَ مَا الْمَسْئُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنْ السَّائِلِ وَسَأُخْبِرُكَ عَنْ أَشْرَاطِهَا إِذَا وَلَدَتْ الْأَمَةُ رَبَّهَا وَإِذَا تَطَاوَلَ رُعَاةُ الْإِبِلِ الْبُهْمُ فِي الْبُنْيَانِ فِي خَمْسٍ لَا يَعْلَمُهُنَّ إِلَّا اللَّهُ ثُمَّ تَلَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ{إِنَّ

 اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ}الْآيَةَ ثُمَّ أَدْبَرَ فَقَالَ رُدُّوهُ فَلَمْ يَرَوْا شَيْئًا فَقَالَ هَذَا جِبْرِيلُ جَاءَ يُعَلِّمُ النَّاسَ دِينَهُمْ قَالَ أَبُو عَبْد اللَّهِ جَعَلَ ذَلِك كُلَّهُ مِنْ الْإِيمَانِ
Pada suatu hari ketika Nabi saw berkumpul dengan para sahabat, beliau didatangi Jibril as seraya bertanya : Iman itu apa?. Beliau menjawab : Iman itu kamu harus meyakini Allah swt dan bertemu dengan-Nya, juga meyakini malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, serta meyakini hari kebangkitan. Ia bertanya lagi: Apa itu islam?. Nabi saw menjawab : Islam itu kamu harus menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya serta melaksanakan salat, zakat, puasa ramadlan. Ia juga menanyakan : apa itu ihsan?. Nabi saw menjawab : kamu menyembah Allah swt seakan-akan kamu melihat-Nya, jika kamu tak mampu sungguh Ia bisa melihatmu. Ia bertanya: kapan hari kiamat?. Orang yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya, tetapi aku akan memberi tahu tentang tanda-tandanya. Ketika budak melahirkan majikannya, ketika penggembala unta dan binatang ternak berlomba-lomba meninggikan bangunan dalam lima perkara yang hanya diketahui oleh Allah swt. Kemudian Nabi saw membaca ayat: sesungguhnya hanya pada Allah swt informasi tentang kiamat dst. Kemudian Jibril beranjak pergi. Kemudian Nabi saw menyuruh sahabat untuk memanggilnya lagi tapi sahabat sudah tidak melihatnya. Nabi bersabda : itu adalah Jibril yang datang ingin mengajarkan agama orang islam. Abu Abdullah mengomentari : Hadits ini semuanya dijadikan sebagai rincian iman.
v  Analisa Matan :
ü  Bi liqaih : membenarkan dengan adanya kehidupan setelah kematian. Kehidupan disana ialah kehidupan ruh dan jasad.[11]
ü  Bi al-ba'ts : dihidupkannya kembali jasad-jasad yang telah mati. Ini merupakan penegasan dari redaksi bi liqaih.

v  Analisis sanad :
ü  Abdurrahman bin Shakhr, masuk islam pada masa perang khaibar. Beliau wafat di Madinah pada usia 78 tahun. Banyak pendapat mengenai tahun kewafatan beliau, mulai dari 57, 58 sampai 59 H. Para pakar berbeda pendapat mengenai nama asli dari Abu Hurairah. Ada salah satu riwayat yang dinukil dari Abu Hurairah : Pada zaman jahiliyah nama saya Abdus Syams, kemudian setelah masuk islam nama saya berubah menjadi Abdurrahman. Saya dipanggil Abu Hurairah lantaran saya menemukan kucing kemudian saya ambil dan kumasukkan ke dalam lengan bajuku. Kemudian saya ditanya: Apa itu ?. Kucing, jawabku. Maka semenjak itulah aku dipanggil dengan sebutan Abu Hurairah. Nama Abdurrahman bin Sakhr adalah nama yang dibuat pegangan oleh ahli dan pakar sanad.[12]
ü  Haywah bin Syuraih bin Shafwan at-Tujibi al-Mishri, lebih dikenal dengan Abu Zur'ah. Meninggal dunia pada tahun 153/158/159 H.
ü  Abu Hayyan at-Taimy, memilki nama asli Yahya bin Sa'id, termasuk perawi tsiqah dan memiliki banyak hadits yang tidak buruk.[13] Yahya bin Said al-Qathan at-Tamimi al-Bashri, wafat pada 198 H.
ü  Ismail bin Ibrahim bin 'Ulayyah al-Asadi al-Bashri, lebih dikenal dengan Ibnu Ulayyah dan Ulayyah sendiri adalah nama ibunya sedangkan kakeknya bernama Miqsam. Lahir pada tahun 110 H. Dan wafat di Baghdad pada tahun 193 H. Komentar Abu Dawud : Semua ahli hadits pernah salah dan keliru kecuali Ibnu Ulayyah.
ü  Musaddad bin Musarhad bin Musarbal al-Asadi al-Bashri, memiliki kitab musnad dan beliau wafat pada tahun 228 H.
b. Riwayat Muslim
حَدَّثَنِى أَبُو خَيْثَمَةَ زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ كَهْمَسٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ يَحْيَى بْنِ يَعْمَرَ ح وَحَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُعَاذٍ الْعَنْبَرِىُّ - وَهَذَا حَدِيثُهُ - حَدَّثَنَا أَبِى حَدَّثَنَا كَهْمَسٌ عَنِ ابْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ يَحْيَى بْنِ يَعْمَرَ قَالَ كَانَ أَوَّلَ مَنْ قَالَ فِى الْقَدَرِ بِالْبَصْرَةِ مَعْبَدٌ الْجُهَنِىُّ فَانْطَلَقْتُ أَنَا وَحُمَيْدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحِمْيَرِىُّ حَاجَّيْنِ أَوْ مُعْتَمِرَيْنِ فَقُلْنَا لَوْ لَقِينَا أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَسَأَلْنَاهُ عَمَّا يَقُولُ هَؤُلاَءِ فِى الْقَدَرِ فَوُفِّقَ لَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ دَاخِلاً الْمَسْجِدَ فَاكْتَنَفْتُهُ أَنَا وَصَاحِبِى أَحَدُنَا عَنْ يَمِينِهِ وَالآخَرُ عَنْ شِمَالِهِ فَظَنَنْتُ أَنَّ صَاحِبِى سَيَكِلُ الْكَلاَمَ إِلَىَّ فَقُلْتُ أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ إِنَّهُ قَدْ ظَهَرَ قِبَلَنَا نَاسٌ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ وَيَتَقَفَّرُونَ الْعِلْمَ - وَذَكَرَ مِنْ شَأْنِهِمْ - وَأَنَّهُمْ يَزْعُمُونَ أَنْ لاَ قَدَرَ وَأَنَّ الأَمْرَ أُنُفٌ. قَالَ فَإِذَا لَقِيتَ أُولَئِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنِّى بَرِىءٌ مِنْهُمْ وَأَنَّهُمْ بُرَآءُ مِنِّى وَالَّذِى يَحْلِفُ بِهِ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ لَوْ أَنَّ لأَحَدِهِمْ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا فَأَنْفَقَهُ مَا قَبِلَ اللَّهُ مِنْهُ حَتَّى يُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ ثُمَّ قَالَ حَدَّثَنِى أَبِى عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ قَالَ بَيْنَمَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيدُ سَوَادِ الشَّعَرِ لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِى عَنِ الإِسْلاَمِ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « الإِسْلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَتُقِيمَ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِىَ الزَّكَاةَ وَتَصُومَ رَمَضَانَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيلاً. قَالَ صَدَقْتَ. قَالَ فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ. قَالَ فَأَخْبِرْنِى عَنِ الإِيمَانِ. قَالَ « أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ ». قَالَ صَدَقْتَ. قَالَ فَأَخْبِرْنِى عَنِ الإِحْسَانِ. قَالَ « أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ ». قَالَ فَأَخْبِرْنِى عَنِ السَّاعَةِ. قَالَ « مَا الْمَسْئُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ ». قَالَ فَأَخْبِرْنِى عَنْ أَمَارَتِهَا. قَالَ « أَنْ تَلِدَ الأَمَةُ رَبَّتَهَا وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُونَ فِى الْبُنْيَانِ ». قَالَ ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيًّا ثُمَّ قَالَ لِى « يَا عُمَرُ أَتَدْرِى مَنِ السَّائِلُ ». قُلْتُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ « فَإِنَّهُ جِبْرِيلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِينَكُمْ ».
Yahya bin Ya'mur bererita : Pertama kali orang yang berkata tentang Qadha' dan qadar di Bashrah ialah Ma'bad al-Juhani. Kemudian aku dan Humaid bin Abdurrahman al-Himyari berangkat haji dan umrah. Di perjalanan kami berbincang, jika kita bertemu dengan salah seorang sahabat kita akan bertanya tentang qadar yang mereka katakan. Akhirnya dipertemukan dengan Ibnu Umar di suatu masjid. Kemudian kami mendatanginya, seraya aku bertanya: Hai Ibnu Umar, diantara kami ada yang meyakini bahwa qadar itu tidak ada. Beliau menjawab : jika kamu bertemu mereka katakanlah aku berlepas tangan dari mereka. Jika mereka menginfakkan emas segunung uhud, Allah tidak akan menerimananya sampai mereka beriman kepada qadar Allah. Ayahku bercerita: Suatu ketika kami duduk-duduk bersama Nabi saw, kemudian datanglah seseorang yang berpakaian putih dan berambut hitam pekat, ia tidak tampak bepergian dan kami tidak ada yang tahu. Sampai ia duduk berhadapan dengan nabi,  seraya bertanya : ... beritahu aku tentang iman?. Nabi saw menjawab : Anda beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari akhir, serta beriman kepada qadar Allah ....    

v  Analisa Matan :
ü  Bi al-Qadar : Termasuk juga meyakini bahwa Allah mengetahui segala sesuatu yang akan terjadi. Sesuatu yang telah di tulis di Lauh al-Mahfudzh.[14]
v  Analisa Sanad :
ü  Umar bin al-Khathab, sudah disebutkan biografinya
ü  Abdullah bin Umar bin al-Khathab bin Nufail al-Qurasyi al-Adawi, beliau masuk islam ketika masih kecil dan saat itu masih belum baligh. Komentar Maymun bin Mahran : aku tidak mengenal seseorang yang lebih wara' dari Ibnu Umar. Beliau wafat di Makkah tahun 73 H. Kira-kira tiga bulan setelah meninggalnya Ibnu Zubair.[15] 
ü  Yahya bin Ya'mur al-Bashri, seorang Qadhi di daerah Marwa dan ia orang pertama kali yang memberi titik pada mushaf. Komentar Ibnu Hibban : Beliau termasuk orang yang paling pakar di bidang bahasa pada zamannya dan dikenal dengan kewarakkannya.
ü  Abdullah bin Buraidah bin al-Hushaib al-Aslami al-Maruzi, seorang Qadhi di daerah Marwa. Lahir pada masa tiga tahun setelah kepemimpinan Umar bin al-Khattab dan wafat pada tahun 115 H.
ü  Kahmas bin al-Hasan at-Tamimi al-Bashri, wafat pada tahun 149 H.
ü  Mu'adz bin Mu'adz bin Nashr al-'Anbari at-Tamimi al-Bashri, seorang Qadhi di tanah Bashrah, meninggal dunia di usia 77 tahun pada tahun 196 H.
ü  Ubaidillah bin Mu'adz bin Mu'adz al-'Anbari al-Bashri, wafat pada tahun 237 H. Komentar Abu Dawud: Ia telah hafal kurang lebih 10 ribu hadits.
ü  Waki' bin al-Jarrah bin Malih ar-Ruasi al-Kufi, meninggal pada tahum 196 H. Komentar Ahmad : Aku tidak pernah melihat orang secerdas dirinya dan aku tidak pernah ia membawa kitab ataupun tulisan sama sekali.
ü  Abu Khaitsamah Zuhair bin Harb bin Syaddad al-Harasyi an-Nasai, tinggal di kota Baghdad. Lahir pada tahun 160 H. Wafat pada malam kamis tanggal 7 Sya'ban 234 H. Komentar Abu Dawud: tidak ada yang melebihi kebaikan kualitas ilmunya.
v  Perbandingan :
ü  Matan Bukhari lebih singkat dan simpel dari Muslim
ü  Matan Bukhari dimulai dari Iman, islam dan ihsan, sedangkan Muslim Islam, iman, dan ihsan.
ü  Tanda-tanda kiamat di Bukhari sedikit dan diakhiri dengan QS: 31;34, sedangkan Muslim  lebih banyak tetapi tidak diakhiri ayat.
ü  Perawi Bukhari tidak ada persamaan sama sekali dengan Muslim. Bukhari dari Abu Hurairah sampai Musaddad, sedangkan Muslim dari Umar bin al-Khathab sampai Abu Khaitsamah Zuhair bin Harb.

3. Cinta Rasul saw
a. Riwayat Bukhari
حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ عُلَيَّةَ عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ صُهَيْبٍ عَنْ أَنَسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ح و حَدَّثَنَا آدَمُ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
Tidak sempurna keimanan seseorang diantara kalian sampai aku (Muhammad) lebih dicintainya dari orang tuanya, anaknya, dan semua manusia.
v  Analisa Matan :
ü  Cinta Rasul saw merupakan pokok dari keimanan, karena akan disejajarkan dengan cinta Allah swt.[16]
v  Analisa sanad:
o   sanad pertama
ü  Anas bin Malik al-Khazraji an-Najari al-Anshari al-Bashri, beliau adalah pembantu Nabi saw. Diriwayatkan bahwa ketika Nabi saw datang ke Madinah, ia masih berumur 10 tahun dan ketika Nabi saw wafat, ia berumur 20 tahun. Anas wafat di Bashrah pada usia 103 tahun dan ada yang mengatakan 107 atau 90-an. Tahun kewafatan beliau juga banyak versi, mulai dari tahun 91, 92, 93 dan 110 H. Ada yang menarik dari sahabat Nabi satu ini. Keturunan beliau sudah mencapai kurang lebih 100 sebelum beliau wafat. Hal ini diyakini berkat do'a dari Nabi saw. Diriwayatkan juga, beliau memiliki 80 anak, 78 laki-laki dan 2 perempuan yaitu Hafshah dan Ummu 'Amr.   
ü  Qatadah bin Di'amah bin Qatadah as-Sadusi al-Bashri, lahir pada tahun 60 H. dan wafat pada tahun 117 H. Komentar Said bin al-Musayyab : Tidak ada orang Iraq yang lebih kuat hafalannya ketimbang Qatadah.
ü  Syu'bah bin al-Hajjaj bin al-Ward al-'Ataki al-Azdi, tinggal di Bashrah. Beliau lahir pada tahun 82 H. dan  wafat pada tahun 160 H. Komentar Imam as-Safi'i : jika tidak ada Syu'bah maka di Iraq tidak akan ada hadits.
ü  Adam bin Abu Iyas Abdurrahman bin Muhammad al-Khurasani al-Marrudzi al-'Asqalani, dilahirkan di Khurasan kemudian tinggal di Baghdad. Disana beliau meriwayatkan hadits dari guru-gurunya. Petualangan ilmiahnya  ke berbagai daerah, mulai Kufah, Bashrah, Hijaz, Mesir sampai Syam. Di akhir hidupnya beliau menetap di 'Asqalan dan meninggal di usia 88 tahun tepatnya pada bulan Jumadil Akhirah tahun 220 H.
o   Sanad kedua
ü  Anas bin Malik, sudah disebut biografinya.
ü  Abdul Aziz bin Shuhaib, beliau juga dikenal dengan nama Abdul Aziz bin al-Abd. Ia adalah budak sahabat Anas bin Malik dan termasuk perawi tsiqah.[17]
ü  Ismail bin Ibrahim bin 'Ulayyah al-Asadi al-Bashri, lebih dikenal dengan Ibnu Ulayyah dan Ulayyah sendiri adalah nama ibunya sedangkan kakeknya bernama Miqsam. Lahir pada tahun 110 H. Dan wafat di Baghdad pada tahun 193 H. Komentar Abu Dawud : Semua ahli hadits pernah salah dan keliru kecuali Ibnu Ulayyah.
ü  Ya'qub bin Ibrahim bin Katsir bin Zaid bin Aflah bin Manshur bin Muzahim al-'Abdi ad-Dauraqi al-Baghdadi, memiliki musnad dan wafat pada tahun 252 H.
b. Riwayat Muslim
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَابْنُ بَشَّارٍ قَالاَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ سَمِعْتُ قَتَادَةَ يُحَدِّثُ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ ».
Tidaklah sempurna iman seseorang sehingga aku lebih dicintai olehnya dari pada anak dan orang tuanya serta semuanya.
v  Analisa Matan :
ü  Qadli 'Iyadl berkata : Cinta disini mencakup tiga macam. Cinta dengan cara menghormati dan memulyakan seperti cinta kepada orang tua. Cinta dengan cara kasih sayang seperti cinta kepada anak. Cinta dengan ramah dan berprasangka baik seperti cinta pada sesama.[18] 
v  Analisa sanad:
ü  Anas bin Malik, sudah disebutkan sebelumnya
ü  Qatadah, sudah disebutkan sebelumnya
ü  Syu'bah, sudah disebutkan
ü  Ghundar Muhammad bin Ja'far al-Hudzali al-Bashri, wafat pada bulan Dzulqo'dah 193 H.
ü  Bundar Muhammad bin Bassyar bin Utsman al-Abdi al-Bashri, meninggal dunia di usia 85 tahun tepatnya pada bulan Rajab tahun 252 H. Komentar Abu Dawud : Aku telah menulis kurang lebih 5000 hadits dari Bundar.
ü  Muhammad bin al-Mutasanna bin Ubaid al-'Anazi al-Bashri, wafat pada tahun 252 H. Komentar Al-Khathib al-Baghdadi : Beliau adalah seorang yang tsiqah, jujur, wara', dan cerdas. Semua Pengarang kutub as-Sittah meriwayatkan hadits darinya.

v  Perbandingan :
ü  Tidak ada perbedaan matan dalam kitab Bukhari dan Muslim.
ü  Dalam hadits ini Bukhari punya dua sanad sedang Muslim hanya satu. Dari ketiga sanad itu hanya sama pada sahabat Anas bin Malik saja. Salah satu sanad Bukhari mempunyai kesamaan dengan Muslim pada Anas bin Malik, Qatadah, Syu'bah.

4. Kenikmatan Beriman
a. Riwayat Bukhari
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ الثَّقَفِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا أَيُّوبُ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ عَنْ أَنَسِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ
Tiga perkara yang apabila seseorang memilikinya maka dia akan merasakan nikmatnya beriman : ketika Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya dari selain keduanya; ketika seseorang mencintai seseorang dia tidak mencintainya kecuali karena Allah; ketika dia membenci untuk kembali kekafiran sebagaimana dia membenci jika dilempar ke neraka. 
v  Analisa Matan :
ü  La yuhibbuhu illa lillah: Cinta yang murni hanya mengharap rida-Nya.
ü  Iman memiliki kenikmatan rohani dan kelezatan batin. Hal ini tidak bisa diraih melainkan dengan tiga hal di atas.[19]
v  Analisa sanad :
ü  Anas bin Malik, sudah disebutkan biografi beliau
ü  Abu Qilabah Abdullah bin Zaid bin 'Amr al-Jarmi, banyak sekali meriwayatkan hadits. Beliau tinggal di Daraya dan wafat pada tahun 104/105/106/107 H.
ü  Ayub bin Abu Tamimah Kaisan as-Sakhtiyani al-Bashri, dilahirkan pada tahun 68 H. dan  wafat tahun 131 H. Komentar Ibnu Uyaynah : aku telah bertemu 86 tabi'in, tetapi diantara mereka tidak ada yang sepadan dengan Ayub.
ü  Abdul Wahab bin Abdul Majid bin as-Shalt ats-Tsaqafi al-Bashri, wafat pada tahun 194 H.
ü  Muhammad bin al-Mutsanna, sudah disebutkan sebelumnya.
b. Riwayat Muslim
حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ وَمُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى بْنِ أَبِى عُمَرَ وَمُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ جَمِيعًا عَنِ الثَّقَفِىِّ - قَالَ ابْنُ أَبِى عُمَرَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ - عَنْ أَيُّوبَ عَنْ أَبِى قِلاَبَةَ عَنْ أَنَسٍ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ مَنْ كَانَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِى الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللَّهُ مِنْهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِى النَّارِ ».
Tiga hal yang barang siapa dalam dirinya ada hal itu maka ia akan merasakan manisnya iman.; orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi cintanya kepada selain keduanya; orang yang mencintai orang lain semata-mata karena Allah; orang yang enggan kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya sebagaimana ia enggan untuk dilemparkan ke dalam neraka.
v  Analisa Matan :
ü  Sebagian ulama mengatakan : kenikmatan beriman adalah merasakan lezat dalam menjalankan ketaatan dan menanggung segala kesulitan hanya karena ridla Allah. Cinta kepada Allah tergambar dengan berbuat taat dan meninggalkan larangan.[20]
v  Analisa sanad:
ü  Anas bin Malik, sudah disebutkan biografi beliau
ü  Abu Qilabah, sudah disebutkan biografi beliau
ü  Ayub bin Abu Tamimah, sudah disebutkan biografi beliau
ü  Abdul Wahab bin Abdul Majid ats-Tsaqafi, sudah disebutkan biografi beliau
ü  Muhammad bin Basyar, sudah disebutkan biografi beliau
ü  Muhammad bin Yahya bin Abu Umar al-'Adni, tinggal di kota Makkah dan memiliki kitab musnad. Beliau wafat di Makkah pada tahun 243 H.
ü  Ishaq bin Ibrahim bin Makhlad bin Ibrahim bin Mathar al-Handzhali al-Maruzi, lebih dikenal dengan Ibnu Rahawaih. Beliau tinggal di Naisabur dan pernah singgah di Irak, Hijaz, Yaman, dan Syam. Kemudian akhirnya beliau kembali ke tanah Khurasan. Lahir pada tahun 166 H. Dan wafat malam nishfu Sya'ban tahun 238 H.
v  Perbandingan :
ü  Dalam matan hanya berbeda di redaksi ba'da an anqadzahu minhu pada Muslim, sedangkan Bukhari tidak ada
ü  Kesamaan sanad hanya mulai Anas bin Malik, Abu Qilabah, Ayub, sampai Abdul Wahab saja. Kemudian di Bukhari dilengkapi satu tingkat dengan satu perawi yaitu dengan Ibnu Mutsana, sedangkan Muslim dengan tiga perawi.








5. Berkata Baik serta Ramah tehadap Tetanggga dan Tamu
a. Riwayat Bukhari
حَدَّثَنِي عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يُؤْذِ جَارَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ
Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berbicara dengan baik atau diam. Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia tidak mengganggu tetangganya. Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaknya ia memuliakan tamunnya.
v  Analisa Matan :
ü  Iman kepada Allah sering kali dibarengkan secara langsung dengan iman kepada hari akhir baik di al-Quran maupun hadits.[21]
ü  Fala yu'dzi jarahu : tidak mengganggu tetangga adalah salah satu cara menghormati mereka, karena di riwayat yang lain menggunakan redaksi menghormati tetangga.
v  Analisa sanad:
ü  Abu Hurairah, sudah disebutkan biografi beliau
ü  Abu Salamah bin Abdurrahman bin 'Auf az-Zuhri al-Madani, pakar fiqh dan meriwayatkan banyak hadits. Beliau meninggal pada umur 72 tahun di tahun 94 H.
ü  Abu Bakar Muhammad bin Muslim bin Ubaidillah bin Abdullah bin Syihab az-Zuhri,  tinggal di Madinah dan pernah mengembara untuk mencari hadits di Syam. Wafat pada tahun 124 H. Ibnu Manjawih berkomentar: beliau pernah bertemu dengan sepuluh sahabat Nabi saw dan termasuk paling banyak hafal hadits di zamannya. Susunan matan hadits yang diriwayatkannya paling baik. Ia juga ahli di bidang fiqh.
ü  Ibrahim bin Sa'd bin Ibrahim bin Abdurrahman bin Auf az-Zuhri al-Madani, tinggal di Baghdad dan wafat di usia 70-an pada tahun 183/ 184/ 185 H. Komentar ulama: beliau orang yang paling banyak meriwayatkan hadits di Madinah pada zamannya.
ü  Abdul Aziz bin Abdullah bin Abu Salamah al-Majisyun at-Taymi al-Madani, wafat di Baghdad tahun 164 H.
b. Riwayat Muslim
حَدَّثَنِى حَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى أَنْبَأَنَا ابْنُ وَهْبٍ قَالَ أَخْبَرَنِى يُونُسُ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ أَبِى سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ ».
Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berbicara dengan baik atau diam. Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia menghormati tetangganya. Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaknya ia memuliakan tamunnya.
v  Analisa Matan :
ü  Menjaga lisan, menghormati tetangga dan tamu termasuk cerminan dari keimanan seorang muslim.
v  Analisa sanad :
ü  Abu Hurairah, sudah disebutkan biografi beliau
ü  Abu Salamah, sudah disebutkan biografi beliau
ü  Ibnu Syihab az-Zuhri, sudah disebutkan biografi beliau
ü  Yunus bin Yazid al-Ayli ar-Riqasyi, wafat pada tahun 159 H.
ü  Abdullah bin Wahb bin Muslim al-Mishri al-Fihri, wafat pada bulan Sya'ban 197 H. Komentar Ibnu Ady: aku tidak menemukan kemungkaran dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Wahb.
ü  Harmalah bin Yahya bin Abdullah bin Harmalah bin Imran at-Tujibi al-Mishri, beliau merupakan murid Imam as-Syafi'i, lahir pada tahun 166 H. dan meninggal pada malam kamis 9 Syawwal 243 H.
v  Perbandingan:
ü  Perbedaan matan hanya pada redaksi fala yu'dzi jarahu dalam Shahih al-Bukhari dan Falyukrim Jarahu dalam Shahih Muslim.
ü  Persamaan sanad hanya ada mulai Abu Hurairah, Abu Salamah, dan Ibnu Syihab. Sedangkan Ibrahim bin Said dan Abdul aziz hanya ada pada Bukhari dan dalam Muslim ada Yunus, Ibnu Wahb dan Harmalah bin Yahya.    

6. Kasih Sayang terhadap Sesama
حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ شُعْبَةَ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَنْ حُسَيْنٍ الْمُعَلِّمِ قَالَ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ عَنْ أَنَسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
Tidak sempurna keimanan seseorang sampai dia mencintai bagi saudaranya sebagaimana dia cintai bagi dirinya sendiri.
v  Analisa Matan :
ü  Maksud dari hadits ini kurang lebih, senang dengan kebaikan dan manfaat yang diperoleh oleh saudaranya adalah gambaran kesempurnaan iman seseorang.[22]
v  Analisa sanad :
o   Sanad pertama
ü  Anas bin Malik, sudah disebutkan biografi beliau
ü  Qatadah, sudah disebutkan biografi beliau
ü  Husain al-Mu'allim bin Dzakwan al-'Audzi al-Bashri, telah meriwayatkan dari kalangan tabi'in diantaranya Qatadah, Yahya  bin Abu Katsir, 'Atha bin Abu Rabbah, Syu'bah dll. Komentar Ibnu al-Madini: Diantara perawi paling dhabt yang meriwayatkan dari Yahya  bin Abu Katsir adalah Husain al-Mu'allim.
ü  Yahya bin Abu Katsir Shalih bin al-Mutawakkil at-Tha'i, wafat pada tahun 129 H. Komentar Abu Hatim : Yahya merupakan salah satu imam dalam bidang hadits yang hanya meriwayatkan hadits dari perawi tsiqah.
ü  Musaddad, sudah disebutkan biografi beliau
o   Sanad kedua
ü  Anas bin Malik, sudah disebutkan biografi beliau
ü  Qatadah, sudah disebutkan biografi beliau
ü  Syu'bah, sudah disebutkan biografi beliau
ü  Yahya bin Abu Katsir, sudah disebutkan biografi beliau
ü  Musaddad, sudah disebutkan biografi beliau   

b. Riwayat Muslim
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَابْنُ بَشَّارٍ قَالاَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ سَمِعْتُ قَتَادَةَ يُحَدِّثُ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ - أَوْ قَالَ لِجَارِهِ - مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ ».
Tidak sempurna keimanan salah seorang diantara kalian sampai dia mencintai bagi saudaranya atau bagi tetangganya sebagaimana dia cintai bagi dirinya sendiri.
v  Analisa Sanad :
ü  Anas bin Malik, sudah disebutkan biografi beliau
ü  Qatadah, sudah disebutkan biografi beliau
ü  Syu'bah, sudah disebutkan biografi beliau
ü  Muhammad bin Ja'far, sudah disebutkan biografi beliau
ü  Ibnu Basyar, sudah disebutkan biografi beliau
ü  Muhammad bin al-Mutsanna, sudah disebutkan biografi beliau

v  Perbandingan :
ü  Dalam matan tidak ada perbedaan yang jauh. Hanya saja Muslim ragu di dalam redaksi li akhihi atau li jarihi.
ü  Bukhari memiliki dua sanad pada hadits ini. Yang pertama dari Musaddad, Yahya, dan Syu'bah. Kemudian yang Husain al-Mu'allim. Sedangkan tingkatan tabi'in dan sahabat sanad kedua kitab ini sama, yaitu Qatadah dan Anas bin Malik. Kitab Muslim berbeda para perawi Muhammad bin Ja'far, Ibnu Basyar dan Ibnu al-Mutsana.
ü  Hadits ini juga diriwayatkan dalam kutub as-sittah lainnya.


7. Malu sebagian dari Iman
a. Riwayat Bukhari
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكُ بْنُ أَنَسٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ عَلَى رَجُلٍ مِنْ الْأَنْصَارِ وَهُوَ يَعِظُ أَخَاهُ فِي الْحَيَاءِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعْهُ فَإِنَّ الْحَيَاءَ مِنْ الْإِيمَانِ
Ibnu Umar ra berkata : Suatu ketika Rasulullah saw berjalan melalui seseorang dari kaum Anshar yang sedang menasehati saudaranya tentang malu. Maka Raul saw bersabda : Biarkan dia, sesungguhnya malu itu sebagian dari iman.
v  Analisa Matan :
ü  Ya'idzhu akhahu fi al-Haya' : menasehatinya agar jangan terlalu malu, karena rasa malunya yang terlalu membuat ia tidak bisa menerima haknya secara penuh.
ü  Malu sebagian dari iman karena malu bisa menghalangi seseorang untuk berbuat maksiat.[23]
v  Analisa Sanad :
ü  Abdullah bin Umar, sudah disebutkan biografi beliau
ü  Salim bin Abdullah bin Umar bin al-Khatab, tinggal di Madinah, putra yang paling mirip dengan ayahnya, salah satu dari tujuh ahli fuqaha tabi'in. Beliau wafat bulan antara dzulqo'dah dan dzulhijjah pada tahun 107/108/106 H. Ibnu Rahawih berkata: sanad yang paling shahih adalah az-zuhri dari salim dari ayahnya, Abdullah bin Umar.
ü  Muhammad bin Syihab az-Zuhri, sudah disebutkan biografi beliau
ü  Malik bin Anas, sudah disebutkan biografi beliau
ü  Abdullah bin Yusuf at-Tinnisi ad-Dimasyqi, tinggal di Tinis daerah negeri Syam. Beliau wafat pada umur 80 tahun di Mesir tepatnya 218 H.

b. Riwayat Muslim
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِى شَيْبَةَ وَعَمْرٌو النَّاقِدُ وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ قَالُوا حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنِ الزُّهْرِىِّ عَنْ سَالِمٍ عَنْ أَبِيهِ سَمِعَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- رَجُلاً يَعِظُ أَخَاهُ فِى الْحَيَاءِ فَقَالَ « الْحَيَاءُ مِنَ الإِيمَانِ ».
Suatu ketika Rasulullah saw mendengar seseorang dari kaum Anshar yang sedang menasehati saudaranya tentang malu. Maka Rasul saw bersabda : Sesungguhnya malu itu sebagian dari iman.
v  Analisa Matan :
ü  Rasa malu merupakan bawaan dari seseorang. Tetapi malu terkadang bisa dilatih juga.[24]
v  Analisia sanad:
ü  Abdullah bin Umar, sudah disebutkan biografi beliau
ü  Salim bin Abdullah, sudah disebutkan biografi beliau
ü  Az- Zuhri, sudah disebutkan biografi beliau
ü  Sufyan bin Uyainah bin Abu Imran Maimun al-Hilali al-Kufi. Beliau wafat di kota Makkah pada tanggal 1 Rajab 198 H. Imam as-Syafi'i berkomentar: jika tidak ada Malik bin Anas dan Sufyan bin Uyainah, ilmu yang ada di Hijaz akan lenyap.
ü  Zuhair bin Harb, sudah disebutkan biografi beliau
ü  'Amr bin Muhammad bin Bukair an-Naqid al-Baghdadi, tinggal di Riqah, Pakar di bidang fiqh, meninggal di Baghdad pada bulan Dzulhijjah tahun 232 H.
ü  Abu Bakar bin Abu Syaibah Abdullah bin Muhammad bin Ibrahim bin Utsman al-'Absiy, wafat pada bulan Muharam tahun 235 H.

v  Perbandingan :
ü  Ada perbedaan dari kedua kitab yang dikaji. Di dalam Bukhari, Ibnu Umar menceritakan Nabi melewati salah satu penduduk Anshar, sedangkan Muslim tidak. Kemudian dalam perkataan Nabi saw di dalam riwayat Bukhari ada redaksi da'hu, sedangkan Muslim tidak ada.
ü  Sama dalam perawi Ibnu Umar, Salim, dan Az-Zuhri. Sedangkan  dalam Bukhari ada Malik bin Anas dan Abdullah bin Yusuf. Di dalam Muslim Ibnu Uyainah, Zuhair, Amr, dan Abu Syaibah.  
8. Tanda kemunafikan
حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ أَبُو الرَّبِيعِ، قَالَ: حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا نَافِعُ بْنُ مَالِكِ بْنِ أَبِي عَامِرٍ أَبُو سُهَيْلٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " آيَةُ المُنَافِقِ ثَلاَثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ "
Tanda-tanda orang munafik ada tiga : Jika berkata dia berdusta, jika bejanji ia akan mengingkari dan jika diberi amanah dia akan berkhianat.
v  Analisa Matan :
ü  Ayah : tanda
v  Analisa sanad :
ü  Abu Hurairah, sudah disebutkan biografi beliau
ü  Malik bin Abu Amir, beliau memiliki kekerabatan dengan sahabat Anas bin Malik, beliau termasuk keponakan Anas.[25]
ü  Abu Suhail Nafi' bin  Malik bin Abu Amir al-Ashbahi at-Taymi al-Madani, termasuk perawi tsiqah dan muqri' dari bani Taym.[26] Beliau hidup sampai zaman as-Saffah.[27] Beliau adalah paman dari Malik bin Anas.[28] Banyak riwayat beliau dari Said bin al-Musayyab dan beliau termasuk kawan dari az-Zuhri. Wafat kira-kira pada tahun 130 H.
ü  Ismail bin Ja'far bin Abu Katsir al-Madani al-Anshari, salah satu qari Madinah. Wafat tahun 180 H. di Baghdad.
ü  Sulaiman bin Dawud az-Zahrani al-Ataki al-Bashri, lebih dikenal dengan sulaiman Abu ar-Rabi', tinggal di Baghdad dan wafat pada 234 H.
b. Riwayat Muslim
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ وَقُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ - وَاللَّفْظُ لِيَحْيَى - قَالاَ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ قَالَ أَخْبَرَنِى أَبُو سُهَيْلٍ نَافِعُ بْنُ مَالِكِ بْنِ أَبِى عَامِرٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا ائْتُمِنَ خَانَ ».
Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga; apabila ia berbicara ia berdusta; apabila ia berjanji ia mengingkari; apabila ia diberi amanat ia berkhianat.
v  Analisa Matan :
ü  Sekelompok ulama menganggap hadits ini masih ada musykil (kerancauan). Karena orang yang telah beriman dan tidak ada keraguan di dalam hatinya tidak bisa lepas dari sifat-sifat diatas. Oleh karena itu ulama sepakat bahwa orang mukmin melakukan sifat-sifat tersebut tidak dihukumi kafir dan munafik yang kekal di neraka.[29]
v  Analisa Sanad :
ü  Abu Hurairah, sudah disebutkan biografi beliau
ü  Malik bin Abu Amir, sudah disebutkan biografi beliau
ü  Nafi' bin Malik, sudah disebutkan biografi beliau
ü  Isma'il bin Ja'far, sudah disebutkan biografi beliau
ü  Qutaibah bin Said bin Jamil bin Tharif al-Balkhi ats-Tsaqafi, wafat pada tahun 240 H. di  usia 90 tahun.
ü  Yahya bin Ayub al-Maqabiri al-Baghdadi, wafat pada tahun 234 H.

v  Perbandingan :
ü  Tidak ada perbedaan sama sekali dalam matan.
ü  Hanya Abu Hurairah saja perawi yang ada di dalam kitab Shahihain.





9. Beribadah pada bulan Ramadlan
a. Riwayat Bukhari
حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ، قَالَ: حَدَّثَنِي مَالِكٌ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ حُمَيْدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ»
Barang siapa yang beribadah di malam bulan Ramadlan dengan penuh keimanan dan pengharapan, maka akan diampuni dosa-dosanya yang lampau.
v  Analisa Matan :
ü  Imanan : meyakini bahwa ibadah yang ia lakukan merupakan bentuk keimanan
ü  Ihtisaban : mengharap pahala dari Allah swt.
v  Analisa sanad :
ü  Abu Hurairah, sudah disebutkan biografi beliau
ü  Humaid bin Abdurrahman, wafat tahun 95 H. Pendapat ini lebih cenderung mendekati kebenaran. hal. 10 juz.1 . Beliau adalah salah satu putra sahabat Abdurrahman bin Auf.[30]
ü  Az-Zuhri, sudah disebutkan biografi beliau
ü  Malik bin Anas, sudah disebutkan biografi beliau
ü  Ismail bin Abu Uwais Abdullah bin Abdullah bin Uwais bin Malik bin Amir al-Ashbahi al-Madani, keponakan dari Imam Malik bin Anas dan wafat pada tahun 226 H.
b. Riwayat Muslim
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى قَالَ قَرَأْتُ عَلَى مَالِكٍ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ حُمَيْدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ ».
v  Analisa matan :
ü  Ihtisaban : mengharap Allah tidak menampakkan ibadahnya kepada orang lain agar tidak mengurangi keikhlasan.[31]
v  Analisa sanad :
ü  Abu Hurairah, sudah disebutkan biografi beliau
ü  Humaid bin Abdurrahman, sudah disebutkan biografi beliau
ü  Ibnu Syihab az-Zuhri, sudah disebutkan biografi beliau
ü  Malik bin Anas, sudah disebutkan biografi beliau
ü  Yahya bin Yahya bin Bakr at-Tamimi al-Handzhali an-Naisaburi, wafat pada saat ia mendapat gelar Imamnya ahluddunya tepatnya di tahun 226 H.

10. Bertambah dan berkurangnya Iman
a. Riwayat Bukhari
حَدَّثَنَا مُسْلِمُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ قَالَ حَدَّثَنَا هِشَامٌ قَالَ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ عَنْ أَنَسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَخْرُجُ مِنْ النَّارِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَفِي قَلْبِهِ وَزْنُ شَعِيرَةٍ مِنْ خَيْرٍ وَيَخْرُجُ مِنْ النَّارِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَفِي قَلْبِهِ وَزْنُ بُرَّةٍ مِنْ خَيْرٍ وَيَخْرُجُ مِنْ النَّارِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَفِي قَلْبِهِ وَزْنُ ذَرَّةٍ مِنْ خَيْرٍ
Akan keluar dari neraka mereka yang bersaksi Tidak ada tuhan selain Allah dan di dalam hatinya ada seberat biji gandum kebaikan. Dan akan keluar dari neraka mereka yang bersaksi Tidak ada tuhan selain Allah dan di dalam hatinya ada seberat butir jagung kebaikan. Dan akan keluar dari neraka mereka yang bersaksi Tidak ad tuhan selain Allah dan di dalam hatinya ada seberat biji sawi kebaikan.
v  Analisa Matan :
ü  Iman itu kadang kuat dan kadang lemah. Hal ini bisa diketahui dari hadits diatas yang mengatakan ada kebaikan seberat biji sawi atau butir jagung, dan itu semua menunjukkan perbedaan kadar masing-masing.
v  Analisa sanad :
ü  Anas bin Malik, sudah disebutkan biografi beliau
ü  Qatadah, sudah disebutkan biografi beliau
ü  Hisyam ad-Dustuwai bin Sanbar ar-Rib'i al-Bashri, wafat tahun 152 H.
ü  Muslim bin Abdurrahman, diberi kunyah Abu 'Amr. Beliau dikenal sebagai tukang gajih (syahham). Termasuk perawi tsiqah yang banyak meriwayatkan hadits. Wafat di kota Bashrah pada bulan Shafar tahun 222 H.[32]
b. Riwayat Muslim
حَدَّثَنِى أَبُو غَسَّانَ الْمِسْمَعِىُّ وَمُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى قَالاَ حَدَّثَنَا مُعَاذٌ - وَهُوَ ابْنُ هِشَامٍ - قَالَ حَدَّثَنِى أَبِى عَنْ قَتَادَةَ حَدَّثَنَا أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « يَخْرُجُ مِنَ النَّارِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَكَانَ فِى قَلْبِهِ مِنَ الْخَيْرِ مَا يَزِنُ شَعِيرَةً ثُمَّ يَخْرُجُ مِنَ النَّارِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَكَانَ فِى قَلْبِهِ مِنَ الْخَيْرِ مَا يَزِنُ بُرَّةً ثُمَّ يَخْرُجُ مِنَ النَّارِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَكَانَ فِى قَلْبِهِ مِنَ الْخَيْرِ مَا يَزِنُ ذَرَّةً ». زَادَ ابْنُ مِنْهَالٍ فِى رِوَايَتِهِ قَالَ يَزِيدُ فَلَقِيتُ شُعْبَةَ فَحَدَّثْتُهُ بِالْحَدِيثِ فَقَالَ شُعْبَةُ حَدَّثَنَا بِهِ قَتَادَةُ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- بِالْحَدِيثِ. إِلاَّ أَنَّ شُعْبَةَ جَعَلَ مَكَانَ الذَّرَّةِ ذُرَةً قَالَ يَزِيدُ صَحَّفَ فِيهَا أَبُو بِسْطَامٍ.
Akan keluar dari neraka mereka yang bersaksi Tidak ada tuhan selain Allah dan di dalam hatinya ada seberat biji gandum kebaikan. Dan akan keluar dari neraka mereka yang bersaksi Tidak ada tuhan selain Allah dan di dalam hatinya ada seberat butir jagung kebaikan. Dan akan keluar dari neraka mereka yang bersaksi Tidak ad tuhan selain Allah dan di dalam hatinya ada seberat biji sawi kebaikan.

v  Analisa Matan :
ü  Dzarrah : semut kecil, biji sawi, ataupun atom. Intinya menunujukkan suatu elemen terkecil.
v  Analisa Sanad :
ü  Anas bin Malik, sudah disebutkan biografi beliau
ü  Qatadah, sudah disebutkan biografi beliau
ü  Hisyam ad-Dastuwai, sudah disebutkan biografi beliau
ü  Mu'adz bin Hisyam bin Abu Abdullah ad-Dastuwai al-Bashri, wafat tahun 200 H.
ü  Muhammad binal-Mutsanna, sudah disebutkan biografi beliau
ü  Abu Ghassan Malik bin Ismail bin Dirham an-Nahdi, wafat 219 H.
v  Perbandingan :
ü  Perbedaan matan hanya ada pada redaksi waznu ... min khairin dalam Bukhari dan Ma Yazinu ... dalam Muslim
ü  Hanya ada empat tingkatan saja diatas Bukhari, sedangkan Muslim lima tingkatan. Bukhari meriwayatkan dari Muslim bin Ibrahim, sedangkan Muslim dari Abu Ghassan dan Ibnu al-Mutsana dari Mu'adz bin Hisyam.













BAB III
PENUTUP

Tulisan ini sebagai kajian hadits yang nantinya akan digunakan sebagai bantu loncatan untuk menyelami takhrij hadits. Memang sedikit rumit dalam penyusunannya, tetapi insya Allah akan bermanfaat banyak bagi penelaah dan pengkaji hadits Nabi Muhammad saw.
            Segala puji bagi Allah swt penguasa alam semesta yang dengan rahmat-Nya tulisan ini dapat diselesaikan sebagai tugas pada pertengahan pertama dari semester kedua. Meskipun penulis telah berusaha jerih payah dalam penyusunan, tulisan ini tidak lepas dari segala kesalahan dan kekurangan. Penulis sangat senang sekali dan berharap para pembaca memberikan kritik dan saran demi kemajuan bagi penulis. Jikalau ada kebenaran maka itu murni dari Allah swt dan jika ada kesalahan dan kekurangan maka itu murni dari penulis sendiri. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi semua. 




















[1] Ibnu faris, Maqayis al-Lughah (ttp, ittihad al-kitab al-arab:2002) hal.138
[2] Kamus Besar Bahasa Indonesia, Offline versi 1.1
[3] Muhammad bin Isma'il bin Ibrahim al-Bukhari, Jami' as-Shahih al-Bukhari (ttp, tp :tt) Hal. 20 jld. 1
[4] Hamzah  Muhammad Qasim, Manar al-Qari fi Syarh Mukhtashar Shahih al-Bukhari, (Thaif, Maktabah al-Muayyad : 1990) hal. 145
[5]  Ibnu Abdul Bar, al-Isti'ab fi Ma'rifah al-Ashab (ttp, mawqi' al-warraq : tt) hal. 354 jld. 1
[6] Abdurrahman bin Abu Bakar as-Suyuthi, Thabaqat al-Huffadzh (adz-Dzhahir, Maktabah ats-Tsaqafah ad-Diniyah : 1996) hal. 24
[7] Abdurrahman bin Abu Bakar as-Suyuthi, Thabaqat al-Huffadzh (adz-Dzhahir, Maktabah ats-Tsaqafah ad-Diniyah : 1996) hal. 70
[8]  Muslim bin al-Hajjaj bin muslim an-Naisaburi, Shahih Muslim (ttp, tp: tt) Hal.48 jld.5
[9] Yahya bin Syaraf an-Nawawi, Syarh an-Nawawi 'ala Muslim (Beirut, Dar Ihya at-Turats al-Arabi : 1392 H) hal. 53 juz. 13
[10]  Hamzah  Muhammad Qasim, Manar al-Qari fi Syarh Mukhtashar Shahih al-Bukhari, (Thaif, Maktabah al-Muayyad : 1990) hal. 145
[11]  Hamzah  Muhammad Qasim, Manar al-Qari fi Syarh Mukhtashar Shahih al-Bukhari, (Thaif, Maktabah al-Muayyad : 1990) hal. 137
[12] Ibnu Abdul Bar, al-Isti'ab fi Ma'rifah al-Ashab (ttp, mawqi' al-warraq : tt) hal. 71 juz. 2
[13] Muhammad bin Sa'd al-Bashri az-Zuhri, Ath-Thabaqat al-Kubra (Beirut, Dar Shadir : 1968) hal. 353 juz. 6
[14]  Abu al-Asybal Hasan az-Zuhairi al-Mishri, Syarh Shahih Muslim () hal. 7 juz. 72
[15]  Ibnu Abdul Barr, al-Isti'ab hal. 289 juz.1
[16]  Ibnu Rajab, Fath al-Bari (ttp, tp :tt) hal. 22 juz. 1
[17] Muhammad bin Sa'd al-Bashri az-Zuhri, Ath-Thabaqat al-Kubra (Beirut, Dar Shadir : 1968) hal. 245 juz. 7
[18]  Yahya bin Syaraf an-Nawawi, Syarh an-Nawawi 'ala Muslim (Beirut, Dar Ihya at-Turats al-Arabi : 1392 H)
[19]  Hamzah  Muhammad Qasim, Manar al-Qari fi Syarh Mukhtashar Shahih al-Bukhari, (Thaif, Maktabah al-Muayyad : 1990) hal. 94

[20] Yahya bin Syaraf an-Nawawi, Syarh an-Nawawi 'ala Muslim (Beirut, Dar Ihya at-Turats al-Arabi : 1392 H) hal. 13 juz. 2
[21]  Dikutip dari pengajian tafsir tematik dengan Quraisy Syihab di kediaman beliau.
[22]  Hamzah  Muhammad Qasim, Manar al-Qari fi Syarh Mukhtashar Shahih al-Bukhari, (Thaif, Maktabah al-Muayyad : 1990) hal. 90

[23] Hamzah  Muhammad Qasim, Manar al-Qari fi Syarh Mukhtashar Shahih al-Bukhari, (Thaif, Maktabah al-Muayyad : 1990) hal. 105

[24]  Yahya bin Syaraf an-Nawawi, Syarh an-Nawawi 'ala Muslim (Beirut, Dar Ihya at-Turats al-Arabi : 1392 H) hal. 5 juz.2
[25]  Muhammad bin Sa'd al-Bashri az-Zuhri, Ath-Thabaqat al-Kubra (Beirut, Dar Shadir : 1968) hal. 63 juz.5
[26]  Tsiqat Ibnu Hibban ( ttp, Mawqi' Ya'sub : tt) hal.471 jld. 5
[27]  Man lahu Riwayah fi al-Kutub as-Sittah ( ttp, Mawqi' Ya'sub : tt) hal.315 jld. 2
[28] Kuna al-bukhari  ( ttp, Mawqi' Ya'sub : tt) hal. 91 jld. 1
[29]  Yahya bin Syaraf an-Nawawi, Syarh an-Nawawi 'ala Muslim (Beirut, Dar Ihya at-Turats al-Arabi : 1392 H) hal. 46 juz.2
[30] Muhammad bin Sa'd al-Bashri az-Zuhri, Ath-Thabaqat al-Kubra (Beirut, Dar Shadir : 1968) Hal 153 jld. 5
[31]  Yahya bin Syaraf an-Nawawi, Syarh an-Nawawi 'ala Muslim (Beirut, Dar Ihya at-Turats al-Arabi : 1392 H) hal.39 juz.6
[32] Muhammad bin Sa'd al-Bashri az-Zuhri, Ath-Thabaqat al-Kubra (Beirut, Dar Shadir : 1968)  hal. 304 juz.7

Poskan Komentar