Minggu, 24 Maret 2013

SEKELUMIT TENTANG PERADABAN ISLAM DI IRAK


SEKELUMIT TENTANG PERADABAN ISLAM DI IRAK
Dalam kamus besar
Bahasa Indonesia peradaban memilki beberapa pengertian, diantaranya kemajuan (kecerdasan) lahir batin, hal yang menyangkut sopan santun, budi bahasa dan kebudayaan suatu bangsa. Sedangkan dalam bahasa arab peradaban diartikan dengan Hadlharah. Semua kata yang berakar dari huruf ha' , dlhad, dan ra' memiliki arti asal bermuculnya sesuatu, datangnya sesuatu dan nampaknya sesuatu. Boleh jadi peradaban merupakan suatu yang akan terus bermunculan sesuai dengan datangannya zaman dan waktu. Jika disederhanakan, peradaban itu akan berubah-ubah sesuai dengan zamannya. Seperti peradaban era sebelum masehi memiliki perbedaan yang jauh dengan peradaban masa kini.
Setiap peradaban mempunyai ciri khas masing-masing. Semua itu disesuaikan dengan tempat, kalangan, dan waktu. Seiring dengan berjalannya waktu, peradaban akan mengalami perkembangan dan perubahan. Peradaban Yunani dan Romawi memiliki perbedaan dengan peradaban umat islam. Meski tidak menutup kemungkinan setiap peradaban manusia itu saling ada keterkaitan dari sisi kemunculan.
Yang jadi pertanyaan, apakah peradaban islam timbul dari benih peradaban jahiliyyah ataupun peradaban umat sebelumnya. Muhammad Asad memiliki pandangan bahwa kita tidak akan menemukan mulai kapan muncul dan timbulnya suatu peradaban manusia. Kita juga tidak mampu menjelaskan perbedaan mendetail antara peradaban-peradaban yang ada di dunia. Barangkali perbedaan peradaban itu bisa dilihat dari komunitas dan daerahnya saja. Misalnya peradaban islam akan sangat kentara cita rasa kereligiusannya.     
 Negeri Irak memiliki peran yang sangat besar dalam perkembangan peradaban islam bagi seluruh Negara di dunia. Tidak sedikit peradaban islam yang berkembang pesat di sana baik peradaban religius maupun peradaban madani. Masjid-masjid sampai perpustakaan besar banyak bertebaran di Negara seribu satu malam ini. Kota Baghdad menjadi sentral peradaban islam di Irak. Disamping itu masih ada kota-kota lainnya, diantaranya Bashrah, Kufah, Samira' Mosul, dan Wasith.     
       Arsitektur dan seni islami di Irak merupakan menjadi tanda kejeniusan umat islam. Hal ini bisa dilihat dari bentuk arsitektur dan hiasan-hiasan yang jelas menampakkan keindahannya.
Nama Baghdad sudah dikenal di dunia dengan peradaban islam yang banyak tersebar dipenjuru kota ini. Pada abad pertengahan, Baghdad telah memainkan peran besar di bidang ilmu pengetahuan, kebudayaan, seni arsitektur, politik dan semua perkembangan peradaban. Dalam bidang pengetahuan, madrasah Baghdad menyumbangkan berbagai pemikiran islam terutama pada cabang ilmu fiqh, filsafat, ilmu kalam, ilmu pengetahuan alam, dan sastra. Baghdad terletak di sebelah barat sungai Dajlah dan ia adalah salah satu kota di timur tengah yang dijadikan sebagai ibu kota pertama bagi kekhalifahan dinasti Bani Abbasiyyah.
Kota ini mulai dibangun pada tahun 762 M atau bertepatan dengan 145 H di bawah kekuasaan dinasti Abbasiyyah dibawah kepemimpinan khalifah Abu Ja'far al-Manshur. Pembangunan Baghdad memakai sistem penatakotaan yang sangat baik. Benteng yang mengelilingi kota itu dengan empat pintu gerbang menjadi gambaran rapinya tata kota Baghdad. Kemudian di tengah-tengah kota dibangun gedung, masjid, pusat perbelanjaan, madrasah dan lain sebagainya.
Maka ketika itu Baghdad menjadi pusat tujuan dalam menimba ilmu pengetahuan bagi para pecinta ilmu yang datang dari berbagai belahan dunia. Karena pakar semua bidang keilmuan telah didatangkan dari berbagai daerah. Sampai-sampai ilmu falak menjadi salah satu majunya peradaban saat itu yang orang barat pun mengetahui ilmu astronomi masih baru-baru ini. Saat itu juga gencar-gencarnya penerjemahan karya-karya ilmiah milik ilmuwan Yunani dan negara latin, mulai dari ilmu filsafat sampai matematika. Semua itu dipelajari di madrasah-madrasah. Dengan dibangunnya perpustakaan-perpustakaan umum dan laboratorium di semua daerah sangat membantu dalam kajian ilmiah. Ini semua yang membuat majunya peradaban islam di Irak dari seluruh aspek sehingga menjadi sumbangan berharga bagi dunia pada masa itu. Sudah tak terhitung berapa banyak karya ulama Baghdad yang tersebar ke Andalusia, seperti kitab al-'ain karya Khalil bin Ahmad al-Farahidi. Dalam bidang kesenian terutama musik juga memberikan dampak bagi perkembangan kesenian music dan tarik suara di kawasan Andalusia. Sudah tidak asing lagi bagi para pecinta ilmu tentang keberadaan para pakar ilmu fiqh di Baghdad, diantaranya Abu Hanifah an-Nu'man w. 150 H/ 767 M, Muhammad bin Idris as-Syafi'i, dan Ahmad bin Hanbal w. 240 H/ 854 M. Merekalah yang mewarnai dunia dalam bidang fiqh dengan pendapat masing-masing. Abdul Latif al-Baghdadi yang dikenal dengan Ibnu Lubad memiliki banyak karya di bidang ilmu psikologi, kedokteran, sejarah, dan sastra.
Salah satu bukti adanya peradaban islam di Baghdad adalah keberadaan madrasah-madrasah yang menjamur di kota ini. Seperti madrasah Nidzhamiyah yang diresmikan tahun 459 H/ 1066 M, madrasah Masyhad dibawah asuhan Abu Hanifah, madrasah al-Mustanshiriyah di tahun 1225 M/625 H. Madrasah ini juga dikenal sebagai perguruan tinggi yang mengajarkan ulumul quran, hadits, fiqh, bahasa arab, matematika, ilmu warits, dan ilmu kedokteran. Yang membedakan madrash ini dengan madrasah-madrsah sebelumnya adalah bangunan yang khusus digunakan untuk pembelajaran.  Madrasah ini dibangun oleh Khalifah al-Mustanshir billah dalam rentang waktu enam tahun. Bangunan madrasah ini berbentuk bujur memanjang dan di depannya halaman luas.
            Peradaban Baghdad mencapai puncaknya pada kekhalifahan Harun ar-Rasyid 70-193 H/ 786-809 M. dan putranya khalifah al-Ma'mun 218-198 H/ 813-833 M. Pencapaian kemajuan dan perkembangan ini berkat jerih payah para khalifah dinasti Abbasiyah pada era awal. Pengamat sejarah asal Perancis, Lobon mengatakan ketatanegaraan yang dibangun oleh khalifan Harun memiliki dampak besar bagi perkembangan peradaban. Ia juga menambahkan, kas Negara waktu itu diatur sebaik mungkin untuk kemaslahatan rakyat, mulai dari jalan, membangun penginapan, masjid, rumah sakit, sekolah-sekolah yang kesemuanya tersebar di seluruh wilayah kekuasaan terutama di Baghdad, Bashrah, dan Mosul. Perluasaan lapangan pertanian dan industri juga berkembang pada masa itu.       
Seiring dengan berjalannya waktu kota Baghdad mengalami masa-masa suram. Setelah adanya invasi dari pasukan Tar tar di bawah komando Hulaghu Khan pada tahun 656 H. Dan juga invasi Timouri di bawah pimpinan Timour Lank pada tahun 790 H. Mereka semua meluluhlantakkan semua bangunan di kota itu. Peradaban di sana hanya tersisa dalam catatan sejarah.

Masjid Jami' Khalifah al-Mutawakkil 'Alallah di Samira' menjadi salah satu simbol peradaban terbesar di Irak. Keindahan arsitektur masjid ini diatas rata-rata masjid jami' lainnya. Menara khas, luas area dan kekokohan bangunan menjadi ciri tersendiri bagi masjid Menara ini menjulang 50 meter keatas dan  bentuknya mirip siput ini yang menjadikannya model bagi masjid-masjid yang lain.  Masjid ini memang dirancang untuk memenuhi kapasitas 80 puluh ribuh jama'ah.  Samira' menjadi kota mode peradaban pada era dinasti Abbasiya. Terletak di sebelah utara Baghdad. Kota ini dibangun oleh khalifah Mu'tashim pada tahun 221 H/ 836 M. Kota ini sempat menjadi ibu kota pemerintahan selama tujuh periode kekhalifahan. Samira' dibangun untuk menyamai kemajuan kota Baghdad. Tidak sedikit juga masjid-masjid yang tersebar di Samira'.                      
Benteng Ukhaidhar juga termasuk peninggalan peradaban di Irak. Ukhaidhar merupakan benteng pertahanan terbaik diantara benteng lain di dunia. Letaknya di daerah yang strategis, mengingat daerah itu menjadi jalur perlintasan kafilah-kafilah perniagaan dan juga menjadi jalur penghubung antara Kufah dengan Syam.
Kota Najef adalah salah satu kota yang sangat dikenal di timur tengah. Terletak 180 Km. di sebelah barat daya kota Baghdad. Di Najef-lah Imam Ali bin Abi Thalib di kebumikan. Pusat perdagangan bagi kawasan Feurat tengah terletak di kota ini. Najef juga menjadi jalur perlintasan darat bagi jama'ah haji yang datang dari Syam.
Dari semua bentuk peradaban islam di Irak di atas, hampir semua menjadi kiblat bagi peradaban lain. Jadi bisa dibilang, peradaban islam di Irak memiliki sumbangsih yang tinggi bagi peradaban dunia.       
Poskan Komentar