Kamis, 28 Maret 2013

KISAH-KISAH AL-QUR’AN


KISAH-KISAH AL-QUR’AN
Tidak diragukan lagi jika
cerita termasuk suatu hal yang menarik untuk disimak. Cerita ataupun kisah akan mudah tertancap pada jiwa dan benak seseorang. Bahkan kita semua tahu kalau cerita adalah salah satu cara untuk menarik perhatian anak kecil. Umumnya orang memandang bahwa mendengar cerita suatu hal yang tak membosankan. Sebaliknya orang-orang pada umumnya merasa bosan untuk mendengarkan ceramah. Karena untuk memahami metode ini cukup sulit dibandingkan dengan metede bercerita. Oleh karena itu metode cerita paling bermanfaat dan memiliki banyak faedah.
Peristiwa dan cerita yang berkaitan dengan sebab-akibat selalu menarik untuk disimak. Terutama jika cerita-cerita itu memiliki pelajaran yang sangat berharga. Keinginan kuat untuk mengetahui dan mendengarkan suatu cerita adalah salah satu faktor terkuat berpengaruhnya nilai-nilai positif cerita tersebut bagi seseorang. Nasehat terkadang tidak bisa langsung meresap ke dalam hati, tetapi jika esensi nasehat itu terbungkus dalam kisah nyata maka tujuan dan isi nasehat akan lebih mudah diterima.
Dewasa ini bercerita merupakan salah satu seni bahasa dan sastra. Padahal al-Quran telah mencontohkan hal ini semenjak belasan abad yang lalu.[1] Sebagaimana telah disitir dalam al-Quran QS Yusuf : 3 ;
 ß`øtwU Èà)tR y7øn=tã z`|¡ômr& ÄÈ|Ás)ø9$# !$yJÎ/ !$uZøym÷rr& y7øs9Î) #x»yd tb#uäöà)ø9$# bÎ)ur |MYà2 `ÏB ¾Ï&Î#ö7s% z`ÏJs9 šúüÎ=Ïÿ»tóø9$# ÇÌÈ  
            Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Quran ini kepadamu, dan Sesungguhnya kamu sebelum (kami mewahyukan) nya adalah Termasuk orang-orang yang belum mengetahui.
II.A. Pengertian
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata kisah berarti 'cerita tentang kejadian dalam kehidupan seseorang'. Sedangkan cerita berarti 'tuturan yang membentangkan bagaimana terjadinya suatu peristiwa, kejadian, dsb'.[2] Bisa dikatakan bahwa kisah merupakan sinonim dari cerita. Yang kemudian kedua kata tersebut silih berganti digunakan dalam tulisan ini.
Kata kisah diserap dari bahasa arab, yaitu qishshah. Dan  kata qishshah berasal dari qashsha-yaqushshu.  Yang mana kata ini merupakan akar dari kata yang tersusun dari huruf qaf, shad, dan shad yang memiliki arti asal 'mengikuti sesuatu'. Dikatakan qishshah, karena suatu kisah itu dicari untuk diingat dan diikuti. Demikian Ibnu Faris menjelaskan.[3]
Sedangkan ar-Raghib al-Ashfihani mengartikan kata yang berakar dari qishshah dengan 'mengikuti jejak'.[4] Qishshah juga dapat berarti 'berita yang bersifat kronologis', disampaikan tahap demi tahap. Menurut Zahran di dalam Qashash al-Quran, qishshah adalah menguraikan kejadian-kejadian dan menyampaikannya tahap demi tahap. Tujuan qishshah, kata Asy-Sya'rawi, adalah untuk pelajaran dalam rangka memantapkan ide-ide yang diamanatkan di dalam al-Quran.[5]
Kata qashsha dan akar-akarnya disebutkan di dalam al-Quran sebanyak 30 kali; diantaranya dalam kata kerja sebanyak 20 kali dan kata benda sebanyak enam kali.[6]  
Kata kisah dalam al-Quran juga menggunakan redaksi al-khabar, an-naba' dan al-hadits. Meskipun masing-masing berbeda dalam penggunaannya. An-Naba' digunakan untuk menceritakan peristiwa yang sudah lama sekali kejadiannya atau peristiwa yang tidak diketahui oleh orang yang diceritakan.[7] Sedangkan untuk menceritakan peristiwa yang diketahui baru terjadi atau peristiwa yang masih bisa dilihat seperti kenyataan, digunakan kata al-khabar. Al-Hadits untuk menceritakan lampau atau sekarang dengan cerita panjang atau pendek. Al-Qashash untuk menceritakan lampau dengan cerita yang panjang.[8] Menurut Al-'Askari arti asal al-hadits adalah menceritakan diri sendiri tanpa ada kaitannya dengan orang lain, dan al-khabar diri sendiri dan orang lain.[9] 
Kisah al-Quran didefinisikan oleh Manna' al-Qathan dengan cerita tentang umat terdahulu dan kenabian-kenabian yang lampau serta berbagai peristiwa yang telah terjadi dan dimuat di dalam al-Quran.[10]
Memang kitab suci terakhir ini banyak mencakup kejadian-kejadian lampau, cerita-cerita umat terdahulu dan lain-lain. Sebagai kitab suci yang terakhir, al-Quran memuat cerita-cerita terdahulu. Sebagaimana dalam sunan at-Tirmidzi bab keutamaan al-Quran ;
(( فيه نبأ ما قبلكم وخبر ما بعدكم ))[11]
Di dalam al-Quran tercakup cerita sebelum kalian dan kabar setelah kalian.  




II.B. Macam-macam kisah dalam al-Quran

Dalam tujuan menyebarkan nila-nilai agama, al-Quran telah menggunakan beberapa macam kisah. Menurut Manna' al-Qaththan macam-macam kisah dalam al-Quran sebagai berikut[12]:
1.      Kisah para nabi
Cakupan macam kisah yang pertama ini meliputi dakwah para nabi terhadap kaum mereka, mukjizat mereka yang diberikan oleh Allah swt sebagai penguat kenabian dan tahapan dakwah serta perkembangannya. Cerita pembangkangan suatu kaum terhadap nabi mereka serta akibatnya masuk dalam macam kisah yang pertama ini. Seperti kisah Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Harun, Nabi Yusuf, Nabi Isa, Nabi Muhammad, dan nabi serta rasul as yang lainnya.
2.      Kisah-kisah qurani
Tentang peristiwa masa lampau atau personal dan kalangan tertentu. Seperti kisah kaum berjumlah ribuan yang meninggalkan kampung halaman mereka karena takut mati, Jalut dan Thalut, Ashabul Kahfi, Dzul Qarnain, Qarun, Ashabus sabt, Maryam, Ashabul Ukhdud, Ashabul Fil, dll. 
3.      Kisah kejadian yang terjadi pada zaman Nabi saw
Seperti perang badar, uhud sebagaimana dalam surah Ali Imran, perang Hunain, Tabuk dalam surah at-Taubah, perang Ahzab dalam surah Ahzab, Hijrah, Isra', dll.

Sedangkan Said 'Athiyyah dalam kitabnya al-I'jaaz al-Qashashi fi al-Quran membagi macam-macam kisah di dalam al-Quran menjadi sebagai berikut[13] :
a)         Kisah sejarah
Yaitu kisah sejarah yang nyata dan disebutkan tempat, pelaku dan kejadiannya. Akan tetapi perlu diingat bahwa catatan sejarah mengenai pelaku, tempat dll. bukanlah tujuan dari cerita. Melainkan tujuan dari cerita itu ialah mengambil manfaat dan pelajaran. Meskipun pelajaran itu bisa dipetik tanpa disebutkan tempat ataupun waktunya.[14] Seperti kisah Dzulqarnain  QS al-Kahfi :83-98. Kisah ini menceritakan tentang seseorang yang telah diberikan kekuasaan di bumi. Bukan mengisahkan kepribadian Dzulqarnain atau siapa sebenarnya dia. Karena hal ini jauh dari hikmah yang bisa diambil. Macam kisah ini banyak di dalam al-Quran. 
b)        Kisah nyata (realita)
Yakni kisah yang dituturkan sebagai model atau contoh realita bagi kehidupan manusia. Baik bagi pelaku kisah tersebut ataupun bagi orang yang mencontohnya. Seperti kisah kedua putra Nabi Adam as, QS al-Maidah:27-31. Kisah ini menjadi contoh realita bagi kejahatan dan kriminalitas di masyarakat.   
c)         Kisah perumpamaan
Yaitu kisah yang tidak keserupaan dengan kejadian nyata, akan tetapi kemungkinan besar akan terjadi pada siapapun dan kapanpun. Seperti kisah dua sahabat, salah seorang diantara keduanya memiliki dua kebun, QS al-Kahfi : 32-44. Kisah ini menjadi perumpamaan bagi dua sahabat, yang satu kaya raya, dzhalim, sombong, dan kufur nikmat. Sedangkan satunya mulya karena keimanannya, banyak bersyukur, dan selalu ingat pada Allah awt.    
d)        Kisah berkenaan dengan perasaan (emosional)
Al-Quran telah bercerita tentang cinta. Cerita itu sebagai bungkus dari nasehat-nasehat al-Quran dan juga untuk menumbuhkan ide untuk mulai mempelajari tingkah laku serta emosi manusia. Seperti kisah Nabi Yusuf dan istri pejabat di Mesir, QS Yusuf:23-34.
e)         Kisah simbolik
Kisah simbolik ini bisa digambarkan dari kisah bersujudnya malaikat kepada Adam sebagai lambang kesediaan malaikat memberi bimbingan ke hati manusia dan memeliharanya sesuai perintah Allah swt. Sedangkan keengganan iblis sebagai pertanda bahwa kejahatan tidak mungkin akan sirna sama sekali, dan bahwa manusia harus terus menerus berjuang menghadapi kejahatan.[15] Kisah turunnya Nabi Adam as ke bumi bukan hanya memiliki makna turun ke bumi saja. Akan tetapi juga memiliki isyarat makna dan simbol menurunnya tingkat permulaan nafsu tabiat manusia kepada merasa mempunyai nafsu yang bebas dan bisa untuk ragu dan bermaksiat.[16] Dan juga seperti kisah Nabi Adam dan istrinya ketika diganggu iblis, QS Thaha:120.

Menurut hemat penulis, macam-macam kisah yang dikemukakan oleh Manna' al-Qaththan itu dilihat dari tokoh dan setting waktu suatu kisah. Sedangkan klasifikasi Sa'id Athiyyah lebih cenderung dilihat dari bentuk cerita.
II.C. Karakteristik dan Faedah Kisah-Kisah dalam Al-Qur’an
a. Karakteristik Kisah dalam Al-Qur’an
Al-Quran Al Karim adalah risalah Allah swt bagi seluruh umat manusia. Maka dari itu, kisah kisah yang terkandung di dalamnya tidak bisa disamakan dengan kisah kisah yang terdapat dalam kitab maupun buku yang lain. Kisah kisah Al-Quran mempunyai karakteristik tersendiri yang menggambarkan kandungan nilai tertinggi tanpa ada yang bisa menandinginya. Berikut adalah karakteristik tersebut, diantaranya:
1.    Kisah kisah dalam Al-Quran bukan khayalan.
Salah  seorang akademisi yang telah mempelajari seni seni kisah dalam kesusastraan berkata bahwa diantara unsur pentingnya suatu kisah adalah khayalan yang bertumpu pada suatu tashawwur (pemikiran atau imajinasi). Semakin  tinggi unsur khayalannya maka semakin menarik dan memikat jiwa sebuah kisah. Maka dia mambuat suatu analogi antara kisah  Al-Quran dengan kisah sastra tersebut. Pendapat ini sangat tidak bisa diterima. Al-Quran  adalah kalamullah yang kisah kisah di dalamnya bukan karya seni yang tunduk pada daya cipta imajinasi dan kreatifitas seni. Dia suci dari penggambaran seni yang tidak peduli dengan realitas sejarah. Semua kisah kisah yang terkandung dalam Al-Quran adalah fakta sejarah yang tidak dapat dipungkiri. Firman Allah swt. dalam Surah Al-Kahf: 13 dengan jelas menyatakan kebenaran hal tersebut.
نحن نقص عليك نبأهم با لحق                                                                       
Kami ceritakan kisah mereka kepadamu (Muhammad) dengan sebenar-benar nya.

2.    Pengulangan kisah kisah dalam Al-Quran.
Al-Quran banyak mengandungkisah kisah yang diungkapkan secara berulangkali di beberapa tempat. Sebuah kisah terkadang berulang kali disebutkan dan dikemukakan dalam bentuk yang berbeda antara tempat satu  yang dengan tempat yang lain. Terkadang ada bagian bagian dari kisah didahulukan, sedangkan di tempat lain diakhirkan. Terkadang secara ringkas dan terkadang pula secara panjang lebar, dan sebagainya.    
     Diantara hikmahnya adalah:
a.         Menjelaskan ke-balaghah-an Al-Quran dalam tingkat yang paling tinggi. Diantara keistimewaan balaghah adalah mengungkapkan sebuah makna dalam berbagai bentuk yang berbeda. Dan kisah yang berulang itu dikemukakan dengan uslub yang berbeda di setiap tempat sehingga tidak membuat orang merasa bosan, bahkan dapat menambah makna makna baru yang tidak ditemukan di tempat lain.
b.        Menunjukkan kemukjizatan Al-Quran. Sebab mengemukakan sesuatu makna dalam berbagai bentuk susunan kalimat yang salah satu bentuk saja tidak ada yang bisa menandingi.
c.         Pemantapan nilai kandungan sebuah kisah. Terkadang sebuah kisah dipaparkan secara panjang lebar agar lebih mantap dan berkesan dalam jiwa.
d.        Setiap kisah memiliki maksud yang berbeda. Pengulangan kisah diperlukan sesuai dangan kondisi dan tuntutan keadaan.
3.    Penuturan unsur cerita.
Perlu diketahui bahwa dalam seni bercerita memiliki beberapa unsur, yaitu; peristiwa, pelaku, tempat dan waktu kejadian, serta latar belakang timbulnya cerita[17]. Kisah dalam al-Quran memiliki unsur-unsur cerita yang sedikit berbeda dengan unsur seni bercerita diatas. Diantaranya yaitu; peristiwa, waktu, tempat, tokoh, dan dialog.[18]
Cerita dalam al-Quran memiliki karakter tersendiri dibanding cerita-cerita lainnya. Cara penuturannya ada yang ditunjukkan nama tempat dan tokoh pelakunya serta gambaran peristiwanya, seperti kisah Musa as dan Firaun (QS. Thaha ;78). Kadangkala kisah hanya disebut peristiwanya tanpa ditunjukkan tempat dan pelakunya. Ini karena kisah dalam al-Quran dimaksudkan untuk menarik pelajaran darinya, bukan untuk mengurai sejarah kejadiannya.[19]
Al-Quran dengan sistematis menyebutkan tokoh secara bervariasi. Pada kisah Nabi Musa as tokoh Firaun yang sebagai musuh utama secara tegas disebutkan berkali-kali. Lain halnya dengan kisah Nabi Musa dengan seorang hamba yang saleh, dan lain sebagainya. Ini bermaksud untuk mempekuat pesan dan ibrah yang bisa diambil dari karakter dan perilaku para tokoh tersebut.

4.    Memiliki nilai-nilai positif dan pelajaran berharga
Tidak semua cerita yang ditulis oleh manusia memiliki nilai dan pesan yang baik bagi pembacanya. Terkadang sebagian cerita membuat orang tak mengenal arah dan menjauhkannya dari nilai-nilai moralitas. Berbeda dengan kisah al-Quran yang memiliki segudang hikmah yang bisa dipetik.

b. Faedah kisah dalam Al-Quran.
Kisah di dalam al-Quran tentunya memilki beberapa faedah diantaranya :
1)      Menjelaskan asas asas dakwah menuju Allah swt dan menjelaskan pokok pokok syariat yang dibawa para Nabi.
وما أرسلنا من قبلك من رسول إلا نوحي إليه أنه لا إله إلا أنا فاعبدون (الانبياء :15)             
Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul pun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya, bahwa tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku olehmu sekalian.
2)      Meneguhkan hati Rasulullah saw dan hati para umatnya atas agama Allah serta memperkuat keyakinan mukmin akan kemenangan yang diraih kebenaran dan para pembelanya serta hancurnya kebathilan dan para pengikutnya.
3)      Membenarkan para nabi terdahulu serta menghidupkan kenangan atas mereka dan mengabadikan jejak peninggalannya.
4)      Menampilkan kebenaran risalah Rasulullah saw sesuai dengan yang diberitakannya tentang hal ihkwal orang orang terdahulu di sepanjang kurun dan generasi.
5)      Menyingkap kebohongan ahli kitab dengan cara membeberkan keterangan yang semula mereka sembunyikan, kemudian menantang mereka dengan menggunakan ajaran kitab mereka sendiri yang masih asli sebelum kitab itu diubah dan diganti, misalnya firman Allah swt pada Surah Ali Imran ayat 93.
6)      Berkesan dalam hati, menarik perhatian dan jiwa serta mudah dalam mengingatnya sebagai pelajaran dalam mengarungi kehidupan.
لقد كان  في قصصهم عبرة لأولى الألباب                                                            
Sesungguhnya pada kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang orang yang berakal.
7)      Menjelaskan hukum yang terkandung dalam kisah al-Quran.[20]
8)      Menggambarkan keadillan Allah swt dengan menindak orang yang mendustakan Nabi.[21]
9)      Menggambarkan anugerah Allah swt dengan memberi pahala bagi orang yang beriman.[22]
10)  Menghibur Nabi Muhammad atas gangguan yang diterima dari orang yang mendustakannya.[23]
11)  Anjuran bagi orang yang beriman agar keimanan mereka semakin mantab dan bertambah. Hal ini bisa diketahui dengan keselamatan dan kemenangan orang yang mendahuluinya dari golongan mukminin.[24]
12)  Ancaman bagi orang kafir agar tidak terus menerus dalam kekufurannya.[25]
13)  Menetapkan kerasulan Nabi saw. Karena cerita umat-umat terdahulu tidak ada yang mengetahuinya selain Allah swt.[26]
Dalam al-Mu'jam al-Maudlhu'i li Ayaat al-Quran al-Karim disebutkan beberapa kisah yang termuat dalam al-Quran dan jumlahnya hampir 50-an. jumlah itu tidak pasti, bisa jadi lebih dari itu. Tidak sedikit ulama yang menulis sebuah karya khusus memuat kisah-kisah dalam al-Quran. Penulis hanya menyebutkan segelintir, diantaranya yaitu;
ü Qashash al-Hayawaan fi al-Quran karya M Mutawalli asy-Sya'rawi
ü Qashash al-Quran karya Muhammad Mutawalli asy-Sya'rawi
ü Qashash al-Quran al-Karim karya Sa'id Muhammad al-Lahhaam
ü Shahih Qashash al-Quran karya Hamid Ahmad ath-Thahir al-Basyuni
ü Al-Qashash al-Qurani wa 'Atha'u asy-Syabaab karya Muhammad Adib Shalih



[1] Manna' bin Khalil al-Qaththan, Mabahits fi Ulum al-Quran (ttp, maktabah al-Ma'arif ; 2000) hal. 316
[2]  Kamus Besar Bahasa Indonesia ( KBBI offline versi 1.1)
[3] Ibnu Faris, Maqayis al-Lughah (ttp, ittihad al-kitab al-arab:2002) hal.7
[4]Husain bin Muhammad ar-Raghib al-Ashfihani, Mufradat al-Quran (Beirut, Dar al-Ma'rifah;tt) Hal. 404
[5] M. Quraish dkk, Ensiklopedi al-Quran: kajian kosa kata ( Jakarta, Lentera Hati; 2007) hal.765
[6] Ahmad al-'Aydarus, Miftah ar-Rahman fi (Jakarta, Dar al-Kutub al-Islamiyyah ; 2012) hal. 715
[7] QS As-Syu'ara:6 dan QS Hud :100
[8] Said Athiyyah, al-I'jaaz al-Qashashi fi al-Quran (Kairo, Dar al-Aafaq al-Arabiyyah ; 2006) hal.37
[9] Abu Hilal al-'Askari, al-Furuuq al-Lughawiyyah (ttp,tp:tt) hal.210
[10] Manna' bin Khalil al-Qaththan, Mabahits fi Ulum al-Quran (ttp, maktabah al-Ma'arif ; 2000) hal. 316
[11] Muhammad bin Isa at-Tirmidzi, sunan at-Tirmidzi (Beirut, Dar Ihya at-Turats al-'Arabi ; tt) hal.172 juz 5
[12] Manna' bin Khalil al-Qaththan, Mabahits fi Ulum al-Quran (ttp, maktabah al-Ma'arif ; 2000) hal. 317
[13] Said Athiyyah, al-I'jaaz al-Qashashi fi al-Quran (Kairo, Dar al-Aafaq al-Arabiyyah ; 2006) hal. 43
[14] Sayid Quthb, Fi Dzhilal al-Quran  (mawqi' at-Tafasir/http://www.altafsir.com)
[15] M Quraish Shihab, Yang Halus dan Tak Terlihat: Setan dalam Al-Quran, (Jakarta, Lentera Hati;2011) hal.50
[16] Said Athiyyah, al-I'jaaz al-Qashashi fi al-Quran (Kairo, Dar al-Aafaq al-Arabiyyah ; 2006) hal.67
[17] Said Athiyyah, al-I'jaaz al-Qashashi fi al-Quran (Kairo, Dar al-Aafaq al-Arabiyyah ; 2006) hal. 24
[18] Said Athiyyah, al-I'jaaz al-Qashashi fi al-Quran (Kairo, Dar al-Aafaq al-Arabiyyah ; 2006) hal.68
[19] M. Quraish dkk, Ensiklopedi al-Quran: kajian kosa kata ( Jakarta, Lentera Hati; 2007) hal.766
[20]  QS al-Qamar ; 4-5. Lihat. Al-Qashshash fi al-Quran al-Karim. (Maktabah asy-Syamela)
[21]  QS Hud ; 101
[22] QS al-Qamar ;  34-35  
[23]   QS Fathir ; 25
[24] QS al-Anbiya' ; 88
[25]  QS Muhammad ; 10
[26]  QS Hud ; 49, QS Ibrahim ; 9 
Poskan Komentar