Sabtu, 10 Januari 2015

KEBERSIHAN PANGKAL SEHAT DAN INDAH

Kata ‘kebersihan’ sudah tidak asing ditelinga kita. Kata ini berasal dari kata
dasar ‘bersih’ yang merupakan kata sifat dan kemudian ditambah imbuhan ke-an sehingga menjadi ‘kebersihan yang berupa kata kerja abstrak (maṣdar). Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, kata bersih berarti; bebas dari kotoran, tulus ikhlas, jelas dan rapi. Kesemua arti tersebut bisa disimpulkan berasal dari arti dasar bebas dari kotoran. Sedangkan dalam bahasa Arab, kata bersih dapat diterjemahkan oleh beberapa kata; naẓīf, naqiyy, ṣāfy, ṭāhir, nazīh dan zakiyy.
Al-Quran tidak menyebutkan semua kata bersih di atas melainkan hanya pada kata āhir dan zakiyy. Kata āhir dan berbagai derivasinya ditemukan dalam al-Quran sebanyak 30 kali. Menurut Ibnu Faris kata yang berakar dari huruf ā, hā dan rā mempunyai arti dasar ‘bersih dan bebas dari kotoran’. Sedangkan kata zakiyy dan akarnya disebutkan dalam al-Quran sebanyak 59 kali. Kata ini memiliki arti asal ‘bertambah dan berkembang’. Zakiyy diartikan bersih karena kebersihan dapat menambah keindahan dan kesehatan. Sehingga tanpanya akan sangat sulit didapatkan kesehatan dan keindahan.
Jumlah penyebutan dua kata di atas dalam al-Quran dapat dijadikan bukti betapa perhatiannya kitab suci umat Islam terhadap kebersihan. Contoh paling sederhana dapat ditemukan dalam QS al-Muddair: 4
﴿ وثيابك فطهر ﴾
Dan bersihkanlah bajumu.
Menurut Al-Zuḥaili, ayat di atas adalah suatu perintah untuk ‘membersihkan baju’ dan menyucikannya. Ini juga suatu bukti kepedulian agama terhadap kebersihan. Kita semua tahu, baju bersih akan tampak indah dipandang dan orang yang memakainya akan terbebas dari penyakit. Karena baju kotor akan berdampak penyakit kulit bagi pemakainya. Al-Zuhaili juga menambahkan, perintah ayat di atas juga mengandung arti pengagungan Allah swt, karena dengan baju yang bersih dalam beribadah akan tampak rasa pengagungan kepada-Nya.
Selain kebersihan lahiriah, al-Quran juga memperhatikan kebersihan secara batiniah. Hal ini bisa dibaca dalam QS al-Baqarah: 129
﴿رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ
seorang rasul dari kalangan mereka sendiri, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu dan mengajarkan Kitab dan Hikmah kepada mereka, dan menyucikan mereka.
Diantara tugas seorang Rasul adalah menyucikan jiwa umatnya dengan membersihkan hati mereka dari segala dosa dan penyakit batin yang dapat mengotori hati. Oleh karena itu, sering kita dengar nyanyian tombo ati. Hati yang sakit adalah hati yang kotor oleh dosa dan penyakit batin. Hati yang sehat terdapat pada orang yang bersih hatinya dari segala kotoran dosa dan penyakit batin. Sehingga pada dirinya akan tampak aura keindahan yang tidak dapat digambarkan oleh kasat mata.
Islam juga memperhatikan kebersihan harta penganutnya dengan dibawajibkannya zakat. Sebagaimana tersurat jelas dalam QS al-Taubah: 103. Dengan zakat harta akan bersih dan keindahan akan tampak dalam keberkahan dan kemanfaatan hartanya.
Dari paparan di atas, setidaknya kita tahu perhatian Islam terhadap kebersihan dalam segala hal. Jika kita cermati, kebersihan sebenarnya bersumber Allah swt sendiri. Karena bersih adalah suatu hal yang tidak buruk danAllah swt bersih dari segala sifat kurang dan buruk. Sehingga tampaklah kesempurnaan Dzat Sang Pencipta. Ibnu Mas’ud meriwayatkan;
)) إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ ((
Allah itu sangat indah dan menyukai keindahan (HR.Muslim Hakim, Ibnu Hibban dan Baihaqi).




   
Poskan Komentar