Kamis, 02 April 2015

untuk Bapakku



Di pagi subuh
tadi ku membuka mata terbangun dari tidur. Entah mengapa hari ini terasa beda buatku. Hati ini ingin menangis dengan rasa kuat ingin pulang ke rumah. Rindu berat membuat mata tak kuasa membendung aliran airnya. Bapak ibu seketika terbayang di depanku. Aku tersadar hari ini hari Jumat tanggal 3 April 2105. 365 hari sudah lewat Bapak meninggalkanku. Ku teringat kala itu, Jumat 4 April paman menelponku dengan suara tersedu-sedu. Sambil meminta maaf kepadaku, beliau mengabarkan kabar duka wafatnya saudara tuanya yang tak lain ayah kandungku. Saat itu hati dan seluruh tubuhku serasa kaku dengan aliran deras dari mataku. Aku kehilangan sosok kebanggaanku. Ayah yang mengajariku hidup sederhana apa adanya. Ayah yang rela mengantarkanku ke medan ilmu meskipun usia telah memakannya.

Dua kali ia mengantarkanku ke kota tetangga Ibu Kota. Meskipun harus menempuh jarak seribu kilo meter lebih untuk itu. Sehari semalam di perjalanan tak membuatnya surut untuk mendampingiku ke Kota itu. Di perjalanan yang terakhir, ku teringat wajahnya kupandangi saat beliau tidur. Cahaya wajahnya menggambarkan rasa lelah telah mengarungi hidup ini. Cahaya itu membuatku menangis, aku merasa beliau tak lama lagi bersamaku di dunia ini. Aku pun hanya bisa mendoakannya saat itu. Setelah selesai tugas Ayah kepala tujuh ini menuntun anak bungsunya ke sumber ilmu. Dalam usia lanjut, tentunya aku tak tega membiarkan bapakku pulang sendirian ke stasiun Ibu Kota yang terkenal dengan keruwetannya. Aku tak tega melepaskan Bapak pulang sendirian. Hati ini terasa berat berpisah dengannya. Tak terasa ternyata itu pengantaran beliau untuk terakhir kalinya sebelum beliau tergeletak sakit selama 5 bulan.

Selang beberapa bulan aku dikejutkan dengan kabar sakitnya beliau. Aku pun memutuskan untuk pulang. Hampir satu bulan lebih ku tinggalkan bangku kuliah demi menjaga dan menemani beliau di rumah sakit. BERSAMBUNG.      

   
Poskan Komentar