Minggu, 30 Agustus 2015

SEKELUMIT TENTANG RASM

MENGENAL RASM

Rasm menurut
Bahasa bekas.[1]  Sedangkan arti yang dimaksud dengan Rasm Usmani adalah bekas tulisan dalam lafal.  Kata Rasm bersinonim dengan kata kha(garis), kitābah (tulisan), saṭr (baris), raqm (nomor), zabr (tulisan), dan wasym (tato).
Rasm terbagi menjadi tiga macam;
1.      Rasm ʻArūḍ yaitu tulisan yang disesuaikan dengan lafal yang diucapkan oleh pembicara sehingga tidak dicantumkan huruf yang tidak diucapkan. Oleh karena itu tanwin ditulis sedangkan hamzah waṣal dibuang tidak ditulis sebab pembicara tidak melafalkannya.
2.      Rasm Qiyāsī adalah menggambarkan kata sesuai dengan huruf ejaannya dengan memperkirakan memulai bacaan dari huruf yang ditulis dan waqaf pada huruf lain yang ditulis.
3.      Rasm Usmani atau juga disebut dengan Rasm Istilahi adalah tulisan para sahabat atas arahan dari Khalifah ketiga Usman bin Affan. Kebanyakan tulisan Rasm Usmani sama dengan Rasm Qiyāsī namun sebagian ada perbedaan seperti pembuangan, penambahan ataupun penggantian beberapa huruf tertentu, hingga menyambung dan memisah beberapa huruf tertentu. Inilah yang dinamakan Rasm Usmani sebagaimana yang akan diterangkan.

A.         PENAMBAHAN HURUF
Contoh-contoh penambahan huruf;
1)      Penambahan huruf alif dalam kata مائة berfungsi untuk membedakan kata tersebut dengan kata منه. Sebab mushaf-mushaf Usman saat itu belum ada titik, hamzah maupun harakat. Penambahan ini juga berlaku pada bentuk dual (taniyah) seperti; مائتين.
2)      Penambahan huruf wawu dalam kata أولي berfungsi untuk membedakan kata tersebut dengan kata huruf jar إلى. Sebagaimana penambahan dalam kata أولئك untuk membedakan dengan kata إليك. Penambahan ini juga berlaku pada kata-kata yang semisal seperti أولوا – أولات – أولائكم.[2]
3)      Penambahan huruf ya dalam kata بأييد dari firman Allah swt:
{وَالسَّمَاءَ بَنَيْنَاهَا بِأَيْدٍ وَإِنَّا لَمُوسِعُونَ} [الذاريات: 47]
Penambahan dalam kata tersebut untuk membedakan kata الأيد yang bermakna kekuatan dengan kata الأيدي yang merupakan bentuk plural dari يد (tangan). Tidak diragukan lagi jika kekuatan yang digunakan Allah untuk membangun langit lebih kokoh dan kuat dibanding tangan-tangan.[3] Menurut Ibnu Abbas kata بأيد berarto kekuatan dan kekuasaan.[4]   

B.      Pembuangan huruf
Contoh-contoh pembuangan huruf;
1)      Membuang huruf Alif
Pembuangan huruf alif dalam al-Quran sangat banyak sekali dan beragam. Di antaranya ada yang merujuk pada perbedaan bacaan (qirāꞌāt) dan ada juga yang melihat pada sebab-sebab lain yang tidak dapat kita ketahui rahasianya. Para pakar Rasm membagi pembuangan huruf menjadi tiga bagian; pembuangan secara isyarat (ḥazf isyārīi), pembuangan untuk meringkas (ḥazf ikhtiṣāri), dan pembuangan singkat (ḥazf iqtiṣār). Salah satunya adalah membuang huruf alif dalam nama-nama yang berasal dari non-Arab (ʻAjam). Menurut Abū ʻAmr Al-Dānī, para ulama bersepakat membuang huruf alif berlaku pada nama-nama yang berasal dari non-Arab seperti Ibrāhīm, Ismāʻīl, Isḥāq, Hārūn, Luqmān dan yang semisal. Sedangkan membuang huruf alif pada nama-nama Arab seperti Sulaimān, Sāliḥ dan Mālik karena sering terlaku. Adapun nama-nama Arab yang tidak sering terlaku maka menggunakan alif seperti Ṭālūt, Jālūt, Yaꞌjūj, Maꞌjūj dan sejenisnya.[5]
Di antara contoh membuah alif karena mengisyaratkan adanya dua riwayat bacaan atau lebih;
{يُخٰدِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ (9)} [البقرة: 9]
   
2)      Membuang huruf wawu
a)      Membuang huruf wawu dan cukup mengisyaratkan dengan huruf ḍammah. Kasus ini ada pada 4 kata kerja;
1.      Membuang huruf wawu kata ويدع  dalam firman Allah;
{وَيَدْعُ الْإِنْسَانُ بِالشَّرِّ دُعَاءَهُ بِالْخَيْرِ} [الإسراء: 11]

  


Translated by. alfira

[1] Lihat Lisān al-ʻArab materi rāꞌ sīn mīm.
[2] Lihat al-Nasyr (Jld. 1/ Hal. 454-457)
[3] AL-Zarkasyi, al-Burhān fī ʻUlūm al-Qurꞌān Jld. 1/Hal. 387.
[4] Tafsir al-Qurtubi jld. 17. Hal. 52
[5] Al-Burhān (jld.1/ Hal. 391-392)
Poskan Komentar