Selasa, 26 Februari 2013

Kolonialisme diatas Kevakuman


Kolonialisme diatas Kevakuman
(Teori Kevakuman Suatu Negara)
Konsep Kolonialisme dan Kevakuman:
Asumsi yang salah jika seseorang yang mengatakan
penjajahan itu sudah tiada lagi. Sebab hal itu mungkin terulang kembali dengan kemunculan faktor dan penyebabnya. Sebagaimana realita yang terjadi di alam kita ini. Hujan bisa turun disebabkan adanya kondis iklim yang sesuai.  
Bahasa arab menggunakan kata isti'mar untuk istilah penjajahan. Sebenarnya ini  istilah yang keliru. Karena kata ini terambil dari kata benda abstrak yaitu al-'amarah yang berarti memakmurkan lawan dari kata merusak atau kerusakan. Padahal hakikat dari penjajahan sendiri itu ialah suatu penghancuran.
Kolonialisme adalah pengeksploitasian suatu daerah rusak yang memilki kevakuman. Hal ini ditengarai dengan tidak adanya kemajuan, perkembangan dan produksi di Negara tersebut. Kolonialisme modern menyelinap di beberapa Negara dengan kedok pengembangan negara.  Kedok ini yang menyebabkan suatu Negara atau daerah menjadi sasaran empuk bagi para kaum penjajah.
Kekosongan dan kevakuman memudahkan kaum imperialis untuk memasuki kawasan Negara lain. Hal ini bisa terjadi jika tidak adanya perlawanan yang kuat dari Negara yang menjadi objek jajahan. Sudah selayaknya setiap warga Negara mengerti bahwa kevakuman dan kekosongan negaranya dari kemajuan di bidang pemikiran, industri, pertanian, maupun politik dapat mengundang kaum penjajah untuk menguasai dan mengeksploitasi negaranya dalam waktu cepat ataupun lambat. Negara vakum akan berubah menjadi pasar konsumtif bagi Negara maju  yang menjajah tanpa adanya pertumpahan darah. Mereka akan menyerap kekayaan dan sumber daya Negara itu dan membuat kesepakatan dengan persyaratan yang sangat merugikan bagi Negara-negara lemah serta jauh dari kemaslahatan mereka. Karena dewasa ini agresi militer sudah tidak terlalu dibutuhkan untuk mengeksploitasi sumber daya daerah manapun yang dilanda krisis dan kevakuman.
Potret terselubung dalam pengeksploitasian:
Di Negara timur tengah keberadaan kolonialisme masih saja ditemukan, sama halnya di Negara Afrika, amerika latin dan juga negara-negara lain. Meskipun Negara itu sudah merdeka secara kasat mata, tetapi sejatinya mereka belum merdeka. Hal ini diindikasikan dengan bergantungnya Negara-negara tersebut dalam segala bidang pada kekuatan Negara-negara asing yang telah maju. Ditambah lagi dengan menyebarnya buta aksara, dan ketidaktahuan mereka tentang faktor dan penyebab kemajuan. Ini semua dapat menutupi kondisi dan ketidaktahuan mereka dalam memandang bentuk kemerdekaan yang semu. Serta keasyikan mereka pada kemewahan materi. Ini semua untuk mengalihkan pandangan mereka terhadap suatu hakikat dan kenyataan yang pait. Ketika segelintir rakyat yang mengerti dan memahami masalah ini enggan untuk menggembor-gemborkan suara mereka maka hal itu akan cepat berdampak pada kehancuran mereka sendiri dengan berlanjutnya penjajahan tersebut. hal itu tidak dapat dihindari karena kevakuman dan krisis pemikiran, industri dan intelektual.
Polemik ini tidak hanya melanda negara-negara tertentu. Melainkan juga menjalar ke berbagai Negara lain. Ambilah contoh dengan disembunyikannya mantan presiden Cina, Mou Ci Tong. Cina mengubah sikapnya karena USA berhasil merayunya untuk bersekutu melawan semua Negara yang menentang Amerika.
Intervensi dan tekanan dari negara-negara maju terhadap Negara-negara lemah terbelakang masih saja berlanjut. Berbagai potret penjajahan masih saja terulang di banyak Negara seperti Mesir, Pakistan, India, dan lainnya. Mereka mengintervensi kawasan-kawasan negara lemah dengan berbagai cara. Salah satunya dengan kedok keharusan untuk terbuka terhadap Negara lain. Yang mana itu hakikatnya adalah menerima kolonialisme modern. Maksud dari keterbukaan itu yaitu Negara atau kawasan manapun yang dilanda krisis dan kevakuman terpaksa untuk membuka jalan bagi produk dan komoditi asing yang memang dibutuhkan. dikarenakan negara itu tidak mampu untuk memproduksi sendiri.
Diantara potret kemerdekaan semu adalah kondisi Libya saat ini. Memang benar Libya tidak bergantung pada asing. Rakyat Libya menjadi pemimpin di negaranya sendiri. Mereka menggunakan produk mereka sendiri. Akan tetapi hal ini saja tidak cukup. Untuk meraih kemerdekaan hakiki mereka harus berkonsolidasi dan menguatkan segala unsur dan elemen Negara seperti mencukupi kebutuhan industri, pertanian, sarana pertahanan dan seluruh aspek. Ketika hal itu sudah terwujud maka kita bisa mengatakan bahwa Libya telah menjadi Negara merdeka secara hakiki, tidak ada krisis ataupun kevakuman yang dapat dimanfaatkan oleh kaum penjajah. Sebaliknya, jika hal itu belum bisa terwujud maka kemerdekaan mereka hanyalah kemerdekaan semu belaka.      
                   


Poskan Komentar