Selasa, 13 November 2012

klasifikasi kejujuran


PENDAHULUAN
Segala puji bagi Allah yang menciptakan langit dan bumi. Shalawat serta salam bagi Nabi yang menjadi rahmat bagi seluruh alam. Cahaya beliaulah makhluq yang pertama diciptakan oleh Maha Pencipta.
[1] Beliaulah Nabi yang menjadi penutup para nabi. Beliaulah Rasul yang menjadi pemimpin para rasul. Manusia yang memiliki akhlak sempurna. Tak satupun ada yang menyainginya. Nabi yang diutus untuk menyempurnakan moral manusia.
قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : إنما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق
Rasulullah saw bersabda, “aku sungguh diutus untuk menyempurnakan akhlaq”[2]
 Islam telah tersebar ke seluruh penjuru dunia. Hal itu tak lepas dari cara penyebaran yang sangat cerdas dan efektif. Salah satunya dengan mensyiarkan akhlak mulya yang menjadi ciri dari orang yang bertakwa. Bahkan jika ada seseorang yang tidak berakhlak mulya, maka boleh dikata ia tak akan dianggap sebagai manusia. Karena ia sama halnya dengan binatang yang memiki nyawa tapi tak bermoral dan boleh jadi ia lebih buruk dari binatang yang tak berakal.
وإنما الأمم الأخلاق مابقيت # فإن هم ذهبت أخلاقهم ذهبوا
“Bangsa itu akan tetap jaya selama masih berakhlak mulia.
Jika akhlak bangsa telah sirna, maka bangsa itu akan binasa”.
Syair Ahmad Syauqi, amir al-Syu’ara’, menginspirasi kita semua betapa pentingnya moralitas sebagai benteng pengawal dan penentu masa depan bangsa. Bangsa ini akan tetap ada selama warganya masih menghiasi dirinya dengan akhlak mulia. Tetapi, jika para pemimpinnya sudah berlomba-lomba tidak jujur, tidak amanah, membohongi rakyat, menyalahgunakan kekuasaan seperti: korupsi berjamaah, maka boleh jadi bangsa ini tidak akan bertahan lama.Senada dengan syair tersebut, Buya Hamka juga pernah bersyair berikut:
Tegak rumah karena sendi
Runtuh budi rumah binasa
Sendi bangsa adalah budi,
Runtuh budi runtuhlah bangsa.
Perlu diketahui bahwa seluruh akhlaq terpuji yang ada dalam diri manusia itu semua bersumber dari Nabi Muhammad saw. Sebagaimana yang ditegaskan oleh al-Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi
فما من خلق في البرية محمود إلا وهو متلقى عن زين الوجود
“ Tidak ada akhlak mulya yang ada pada diri manusia, melainkan hal itu ada dalam sosok Nabi panutan kita”[3]
Salah satu akhlaq Nabi yang termulya adalah shidq (jujur). Karena jujur merupakan salah satu sifat wajib bagi seorang nabi, sebagaimana kita ketahui dalam ilmu akidah. Kita sebagai umat beliau saw tidak etis jika tidak mengikuti dan meneladani akhlak mulya Nabi saw. Orang yang jujur mendapatkan kedudukan yang tinggi di sisi Allah swt. Sebagaimana dalam al-Quran, Allah swt menyandingkannya dengan para nabi dan syuhada.[4] Jujur dan bertakwa tak akan dapat dipisah, seperti api dan kompor.[5]
Tidak semua kejujuran itu baik dalam syari’at. Karena kejujuran terbagi menjadi jujur yang terpuji dan jujur yang tercela. Dalam makalah ini penulis akan menguraikan pembagian tersebut. Mulai dari kejujuran terpuji yang terdiri dari tiga macam yaitu jujur dalam niat, perbuatan dan perkataan sampai kejujuran tercela yang dibagi menjadi dua yakni ghibah dan namimah.
Terakhir penulis ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada DR. Wahib Mu’thi. MA yang selalu menuntun, mengarahkan dan mengajar kami tanpa lelah. Penulis mengharap kesedian pembaca untuk member masukan dan kritik  yang membangun penulis agar lebih baik lagi.





MACAM-MACAM JUJUR
I.     KEJUJURAN YANG TERPUJI
A.  JUJUR DALAM NIAT
Jujur dalam hal ini merupakan hal yang paling berat diantara yang lain. Karena orang yang benar niatnya ia akan mendapat balasan yang sangat besar. Rasulullah saw telah mendidik sahabat untuk lurus dalam berniat.

Nabi Muhammad saw telah bersabda, “Siapapun yang mengharap mati syahid dengan niat yang tulus, Allah swt akan menggolongkannya dalam golongan syuhada meski ia meninggal di atas kasur [6] 

B. JUJUR DALAM PERKATAAN
Sudah selayaknya seorang muslim menjaga lisannya agar tidak berbohong. Berkata keji bukanlah sifat seorang muslim. Apalagi member kesaksian palsu. Hal itu sangat perlu diperhatikan bagi seorang muslim.

Diriwayatkan dari Abi Bakrah bahwa Nabi Muhammad saw bersabda, “ Maukah kalian kuberi tahu dosa besar apa yang paling buruk?. ” “ Iya mau wahai Rasul ” jawab sahabat. Nabi saw menimpali “ mempersekutukan Allah swt, durhaka kepada orang tua, (sedang deliu duduk bersandar) dan hindarilah perkataan kotor.” Kata itu terus diulang nabi saw sampai kita berbisik, “ sampai kapan ia terus mengulang ”[7]








  
C. JUJUR DALAM PERBUATAN
Jujur dalam perbuatan menuntut seorang muslim untuk berbuat sesuai apa yang ada dalam hatinya. Bahkan harus sesuai dengan ucapannya juga. Seorang muslim harus bertanya kepada dirinya apakah kebenaran ucapannya sesuai dengan perbuatannya.
Ÿ@t«ó¡uŠÏj9 tûüÏ%Ï»¢Á9$# `tã öNÎgÏ%ôϹ 4  ÇÑÈ      
Agar ia menanyakan kepada orang-orang yang benar (perkataannya) tentang kebenaran (perbuatan) mereka” (QS; al-Ahzab : 8)

Allah swt telah memaknai jujur dengan keimanan, berinfaq, mendirikan salat, memunaikan zakat, menepati janji, dan bersabar dalam keadaan susah maupun senang. Hal itu termaktub dalam kitab sucinya,

* }§øŠ©9 §ŽÉ9ø9$# br& (#q9uqè? öNä3ydqã_ãr Ÿ@t6Ï% É-ÎŽô³yJø9$# É>̍øóyJø9$#ur £`Å3»s9ur §ŽÉ9ø9$# ô`tB z`tB#uä «!$$Î/ ÏQöquø9$#ur ̍ÅzFy$# Ïpx6Í´¯»n=yJø9$#ur É=»tGÅ3ø9$#ur z`¿ÍhÎ;¨Z9$#ur tA#uäur tA$yJø9$# 4n?tã ¾ÏmÎm6ãm ÍrsŒ 4n1öà)ø9$# 4yJ»tGuŠø9$#ur tûüÅ3»|¡yJø9$#ur tûøó$#ur È@Î6¡¡9$# tû,Î#ͬ!$¡¡9$#ur Îûur ÅU$s%Ìh9$# uQ$s%r&ur no4qn=¢Á9$# tA#uäur no4qŸ2¨9$# šcqèùqßJø9$#ur öNÏdÏôgyèÎ/ #sŒÎ) (#rßyg»tã ( tûïÎŽÉ9»¢Á9$#ur Îû Ïä!$yù't7ø9$# Ïä!#§ŽœØ9$#ur tûüÏnur Ĩù't7ø9$# 3 y7Í´¯»s9'ré& tûïÏ%©!$# (#qè%y|¹ ( y7Í´¯»s9'ré&ur ãNèd tbqà)­GßJø9$# ÇÊÐÐÈ  
Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi Sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. mereka Itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka Itulah orang-orang yang bertakwa.




II.  KEJUJURAN YANG TERCELA
A.  GHIBAH (MENGGUNJING)

Rasulullah saw telah menjelaskan makna ghibah dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah. Nabi saw bersabda, “Tahukah kalian apa itu ghibah?” “ kami tidak tahu wahai Nabi” jawab sahabat. Nabi menimpali, “membicarakan seseorang sesuatu yang membuatnya tidak suka”. Salah satu sahabat menyahut, “ bagaimana jika yang kubicarakan sesuai kenyataan?”. Nabi menegaskan, “ meskipun sesuai kenyataan, engkau tetap ghibah”

B.  NAMIMAH (ADU DOMBA)
Jujur yang tercela yang kedua telah didefinisikan oleh al-Ghazali dengan membongkar suatu masalah yang tidak dikehendaki untuk dibongkar. Meskipun orang yang masalahnya dibuka tidak suka ataupun orang yang mendengarnya.[8]

Nabi Muhammad saw telah member ancaman bagi orang yang sering mengadu domba. Rasulullah saw bersabda, “Orang yang sering mengadu domba tidak akan masuk surga”
















PENUTUP

Ahlak merupakan hal yang harus diperhatikan oleh seorang muslim. Agar ia memilki sifat jujur yang wajib bagi seorang Nabi saw. Agar kit adapt mengikuti dan meneladani beliau dengan maksimal. Demikianlah makalah ini kami buat, agar supaya kita dapat lebih mengetahui perbedaan bacaan dan menyangkut perbebdaan makna. Tentunya masih banyak kesalahan dalam pembuatan makalah ini, untuk itu kami sebagai tim penulis akan sangat berterima kasih jikalau ada dari pembaca yang memberikan masukan dan saran serta motivasi pembangun agar nantinya kami bisa memperbaiki kekurangan kami. Demikian dari penulis. Kekurangan milik kami dan kesempurnaan hanya milik Allah.

      



[1] Diriwayatkan oleh Jabir
[2]Al-Baihaqi, Sunan al-Baihaqi al-Kubra. J.10 H.191
[3] Ali bin Muhammad al-Habsyi, Simth ad-Duror

[4] QS; An-Nisaa 4/69
[5] QS; At-Taubah 9/119
[6] HR. Muslim
[7] HR. Bukhari
[8] Al-Ghazali, Ihya ‘Ulum ad-Din, H. 1620
Poskan Komentar