Sabtu, 10 November 2012

METODE TAFSIR AL-QUR’AN


METODE TAFSIR AL-QUR’AN
PENGERTIAN METODE TAFSIR
Kata “metode” berasal dari bahasa Yunani “methodos” yang berarti cara atau jalan. Di dalam pemakaian bahasa Indonesia kata tersebut mengandung arti: “cara yang teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai maksud {dalam ilmu pengetahuan dan sebagainya); cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan”.
Sedangkan tafsir secara bahasa berarti menjelaskan, menyingkap dan menampakkan atau menerangkan makna yang abstrak. Sedangkan para Ulama berpendapat: tafsir adalah penjelasan tentang arti atau maksud firman-firman Allah sesuai dengan kemampuan manusia (mufassir).
Jadi yang dimaksud metode tafsir Al-Qur’an adalah suatu cara yang teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai pemahaman yang benar tentang apa yang dimaksudkan Allah di dalam ayat-ayat Al-Qur’an.
METODE-METODE PENAFSIRAN AL-QUR’AN
Dari sekian lama perjalanan sejarah penafsiran Al-Qur’an, banyak ditemui beragam tafsir dengan metode dan corak yang berbeda-beda.Al-Farmawi membagi tafsir dari segi metodenya menjadi empat bagian yaitu: metode tahlili, ijmali, Muqaaran dan maudhu’i.
  1. Metode Tafsir Tahlily
Metode Tafsir Tahlily adalah suatu metode tafsir yang bermaksud menjelaskan kandungan ayat-ayat Al-Qur’an dari seluruh aspeknya. Di dalam tafsirnya, penafsir mengikuti runtutan ayat sebagaimana yang telah tersusun di dalam mushaf. Penafsir memulai uraiannya dengan mengemukakan arti kosa kata diikuti dengan penjelasan mengenai arti global ayat. Ia juga mengemukakan munasabah (korelasi) ayat-ayat serta menjelaskan hubungan maksud ayat-ayat tersebut satu sama lain. Begitu pula, penafsir membahas mengenai sabab al-nuzul (latar belakang turunnya ayat) dan dalil-dalil yang berasal dari Rasul, atau Sahabat, atau para Tabi’in, yang kadang-kadang bercampur baur dengan pendapat para penafsir itu sendiri dan diwarnai oleh latar belakang pendidikannya, seperti kebahasaan, hukum, sejarah dan lain-lain yang dipandang dapat membantu memahami nash Al-Qur’an tersebut.
Kitab-kitab yang menggunakan metode ini diantaranya Tafsir al-Qur’an al-‘azhim karya Ibn Katsir, dan Tafsir Kabir karya Fakhr al-Din al-Razi.  
Kelebihan metode Tahlily
·         Dapat mengetahui dengan mudah tafsir suatu surat atau ayat, karena susunan tertib ayat atau surat mengikuti susunan sebagaimana terdapat dalam mushaf.
·         Mudah mengetahui relevansi/munasabah antara suatu surat atau ayat dengan surat atau ayat lainnya.
·         Memungkinkan untuk dapat memberikan penafsiran pada semua ayat, meskipun inti penafsiran ayat yang satu merupakan pengulangan dari ayat yang lain, jika ayat-ayat yang ditafsirkan sama atau hampir sama.
·         Mengandung banyak aspek pengetahuan, meliputi hukum, sejarah, sains, dan lain-lain.
Kelemahan metode Tahlily
·         Menghasilkan pandangan-pandangan yang parsial dan kontradiktif dalam kehidupan umat Islam.
·         Faktor subyektivitas tidak mudah dihindari misalnya adanya ayat yang ditafsirkan dalam rangka membenarkan pendapatnya.
·         Terkesan adanya penafsiran berulang-ulang, terutama terhadap ayat-ayat yang mempunyai tema yang sama.
·         Masuknya pemikiran Israiliyyat.
  1. Metode Tafsir Ijmaly
Metode Tafsir Ijmaly adalah suatu metode Tafsir yang menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan cara mengemukakan makna global. Di dalam sistematika uraiannya, penafsir akan membahas ayat demi ayat sesuai dengan susunan yang ada di dalam mushaf. Kemudian  mengemukakan makna global yang dimaksud oleh ayat tersebut.
Muffasir dengan metode ini, dalam penyampaiannya menggunakan bahasa yang ringkas dan sederhana, serta memberikan idiom yang mirip, bahkan sama dengan Al-Qur’an. Sehingga pembacanya merasakan seolah-olah Al-Qur’an sendiri yang berbicara dengannya. Sehingga dengan demikian dapatlah diperoleh pengetahuan yang diharapkan dengan sempurna dan sampai kepada tujuannya dengan cara yang mudah serta uraian yang singkat dan bagus.
Dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan metode ini, mufassir juga meneliti, mengkaji dan menyajikan asbab al-nuzul atau peristiwa yang melatar belakangi turunnya ayat, dengan cara meneliti hadits-hadits yang berhubungan dengannya.
Metode ini digunakan oleh beberapa kitab diantaranya Tafsir al-jalalain, karya Jalal al-Din al-Suyuthi dan Jalal al-Din al-Mahalli, Shofwah al-bayan Lima’ani Al-Qur’an, karya Syeikh Hasanain Muhammad Makhluf.
Kelebihan metode Ijmaly
·         Praktis dan mudah dipahami,
·         Bebas dari penafsiran israiliyat dan akrab dengan bahasa Al-Qur’an
Kekurangan metode ijmaly
·         Menjadikan petunjuk Al-Qur’an bersifat Parsial dan Tidak mampu mengantarkan pembaca untuk                                                                                     mendialogkan Al-Qur’an dengan permasalahan sosial maupun keilmuan yang aktual dan problematis.
  1. Metode Tafsir Muqaran
Yang dimaksud dengan metode ini adalah mengemukakan penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an yang ditulis oleh sejumlah mufassir. Disini seorang mufassir menghimpun beberapa ayat-ayat Al-Qur’an, kemudian ia mengkaji dan meneliti penafsiran para mufassir mengenai ayat tersebut melalui kitab-kitab tafsir mereka, apakah mereka itu mufassir dari generasi salaf maupun khalaf, apakah tafsir mereka itu tafsir bi al-ma’tsur maupun al-tafsir bi al-Ra’yi.
Jadi metode tafsir muqaran adalah menafsirkan sekelompok ayat Al-Qur’an dengan cara membandingkan ayat dengan ayat, atau antara ayat dengan hadits, atau antara pendapat ulama tafsir dengan menonjolkan aspek-aspek perbedaan tertentu dari obyek yang dibandingkan itu.
Kitab-kitab yang menggunakan metode ini antara lain Durrah al-Tanzil wa Ghurrah al-Tanwil  karya al-Iskafi yang terbatas pada perbandingan antara ayat dengan ayat, Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an  karya al-Qurthubi yang membandingkan penafsiran para mufassir dan Rawa’i al-Bayan fi Tafsir Ayat al-Ahkam  karya ‘Ali al-Shabuny.
Kelebihan metode Muqaran
·         Membuka pintu untuk selalu bersikap toleran terhadap pendapat orang lain.
·         Tafsir dengan metode muqaran ini amat berguna bagi mereka yang ingin mengetahui berbagai pendapat tentang suatu ayat.
·         Dengan menggunakan metode muqaran ini, maka mufassir didorong untuk mengkaji berbagai ayat dan hadits-hadits serta pendapat-pendapat para mufassir yang lain.
Kekurangan metode muqaran
·         Penafsiran yang menggunakan metode ini, tidak dapat diberikan kepada para pemula.
·         Metode muqaran kurang dapat diandalkan untuk menjawab permasalahan sosial yang tumbuh di tengah masyarakat. Hal itu disebabkan metode ini lebih mengutamakan perbandingan daripada pemecahan masalah.
·         Metode muqaran terkesan lebih banyak menelusuri penafsiran-penafsiran yang pernah di berikan oleh ulama daripada mengemukakan penafsiran-penafsiran baru. Sebenarnya kesan serupa itu tak perlu timbul bila mufassirnya kreatif.
4.         Metode tafsir maudhu’i
Metode tafsir maudhu’i juga disebut dengan dengan metode tematik yaitu menghimpun ayat-ayat Al-Qur’an yang mempunyai maksud yang sama, dalam arti, sama-sama membicarakan satu topik masalah dan menyusunnya berdasarkan kronologi serta sebab turunnya ayat-ayat tersebut. Kemudian penafsir mulai memberikan keterangan dan penjelasan serta mengambil kesimpulan. Secara khusus, penafsir melakukan studi tafsirnya ini dengan metode maudhu’i, dimana ia melihat ayat-ayat tersebut dari seluruh seginya, dan melakukan analisis berdasar ilmu yang benar, yang digunakan oleh pembahas untuk menjelaskan pokok permasalahan, sehingga ia dapat memahami permasalahan tersebut dengan mudah dan betul-betul menguasainya, sehingga memungkinkan baginya untuk memahami maksud yang terdalam dan dapat menolak segala kritik.
Metode ini digunakan oleh beberapa kitab diantaranya al-mar’ah fi al-Qur’an dan al-Insan fi al-Qur’an al-Karim karya Abbas Mahmud al-Aqqad dan al-Riba fi al-Qur’an al-Karim karya Abu al-‘A’la al-Maududi.
Kelebihan metode maudhu’iy
·         Hasil tafsir maudhu’iy memberikan pemecahan terhadap permasalahan-permasalahan hidup praktis, sekaligus memberikan jawaban terhadap tuduhan/dugaan sementara orang bahwa al-Qur’an hanya mengandung teori-teori spekulatif tanpa menyentuh kehidupan nyata.
·         Sebagai jawaban terhadap tuntutan kehidupan yang selalu berubah dan berkembang, serta menumbuhkan rasa kebanggaan terhadap al-Qur’an.
·         Studi terhadap ayat-ayat terkumpul dalam satu topik tertentu juga merupakan jalan terbaik dalam merasakan fasahat dan balaghah al-Qur’an.
·         Kemungkinan untuk mengetahui satu permasalahan secara lebih mendalam dan lebih terbuka.
·         Tafsir maudhu’iy lebih tuntas dalam membahas masalah.
Kekurangan metode Maudhu’iy
·         Mungkin melibatkan pikiran dalam penafsiran terlalu dalam.
·         Tidak menafsirkan segala aspek yang dikandung satu ayat, tapi hanya salah satu aspek yang menjadi topik pembahasan saja.
Poskan Komentar