Minggu, 11 November 2012

SYARAT DAN ETIKA MUFASSIR


SYARAT DAN ETIKA MUFASSIR
Kita tahu, bahwa tafsir merupakan salah satu jalan untuk memahami kitab yang diturunkan Allah kapada nabi Muhammad SAW yang tercinta. Sangat mustahil seseorang akan paham Alqur’an secara kamil kalau tidak tahu tentang tafsir.
Sebelum melangkah lebih dalam tentang tafsir Alqur’an. Sebelum melangkah lebih dalam tentang tafsir Alqur’an, ada beberapa hal yang harus di pahami terlebih dahulu, diantaranya harus paham dulu apa itu tafsir, urgensinya, syarat dan etika menjadi seorang mufassir Dll.
A.    Syarat-Syarat Mufassir
Dari aspek pengertiannya, syarat mufassir adalah jalur serta rel sahnya seorang menafsirkan Al-Qur’an, syarat amat sangat urgen bagi siapa pun yang ingin menafsirkan sebuah ayat apata lagi menafsirkan Al-Qur’an secara keseluruhan. Setiap disiplin ilmu pengetahuan membutuhkan sebuah syarat sebagai penunjang utama dalam langkah menuju objektif. Tafsir tidak hanya satu jalur setelah sekian panjang perjalanan ummat ini maka sampailah kita pada masa yang amat jauh dengan qurun Rasulullah dan para sahabatnya.
Syarat yang harus dimiliki oleh seorang mufassir, antara lain:
1. Sehat Aqidah
Seorang yang beraqidah menyimpang dari aqidah yang benar tentu tidak dibenarkan untuk menjadi mufassir.
2. Terbebas dari Hawa Nafsu
Seorang mufassir diharamkan menggunakan hawa nafsu dan kepentingan pribadi, kelompok dan jamaah ketika menafsirkan ayat-ayat Al-Quran.
3. Menafsirkan Al-Quran dengan Al-Quran
Karena Al-Quran turun dari satu sumber, maka tiap ayat menjadi penjelas dari ayat lainnya, dan tidak saling bertentangan. Sebelum mencari penjelasan dari keterangan lain, maka yang pertama kali harus dirujuk dalam menafsirkan Al-Quran adalah ayat Al-Quran sendiri.
4. Menafsirkan Al-Quran dengan As-Sunnah
Berikutnya dia juga harus membaca semua hadits nabi secara lengkap, dengan memilah dan memmilih hanya pada hadits yang maqbul saja.
5. Merujuk kepada Perkataan Shahabat
Para shahabat nabi adalah orang yang meyaksikan langsung bagaimana tiap ayat turun ke bumi. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang justru menjadi objek sasaran diturunkannnya ayat Al-Quran. Maka boleh dibilang bahwa orang yang paling mengerti dan tahu tentang suatu ayat yang turun setelah Rasulullah SAW adalah para shahabat nabi SAW.
6. Merujuk kepada Perkataan Tabi'in
Para tabi'in adalah orang yang pernah bertemu dengan para shahabat Nabi SAW dalam keadaan muslim dan meninggal dalam keadaan muslim pula. Mereka adalah generasi langsung yang telah bertemu dengan generasi para shahabat.Maka rujukan berikutnya buat para mufassir atas rahasia dan pengertian tiap ayat di Al-Quran adalah para tabi'in.
7. Menguasai Bahasa Arab, Ilmu dan Cabang-cabangnya
Namun kedudukan bahasa Arab sebagai transformator dan komunikator antara Allah dan manusia, yaitu melalui Al-Quran menjadi mutlak dan absolut.Kearaban bukan hanya terbatas dari segi bahasa, tetapi juga semua elemen yang terkait dengan sebuah bahasa. Misalnya budaya, adat, 'urf, kebiasaan, logika, gaya, etika dan karakter.
Tidak ada cerita seorang mufassir buta bahasa dan budaya Arab.Sebab bahasa terkait dengan budaya, budaya juga terkait dengan 'urf, etika, tata kehidupan dan seterusnya.
8. Menguasai Cabang-cabang Ilmu yang Terkait dengan Ilmu Tafsir
Kita sering menyebutnya dengan 'Ulumul Quran.Di antara cabang-cabangnya antara lain ilmu asbabunnuzul, ilmu nasakh-manskukh, ilmu tentang al-'aam wal khash, ilmu tentang Al-Mujmal dan Mubayyan, dan seterusnya.
Alim ulama berkata, "Dalam menafsirkan Al-Qur'an diperlukan keahlian dalam lima belas bidang ilmu". Yaitu: Lughat (fitologi), Nahwu (tata bahasa), Sharaf (perubahan bentuk kata), Isytiqaq (akar kata), Ma'ani (susunan), Bayaa, Badi', Qira'at, Aqa'id, Ushul Fiqi, Asbabun Nuzul, Nasikh Mansukh, Fiqih, Hadits,Wahbi
9.Pemahaman yang Mendalam
Syarat terakhir seorang mufassir adalah dia harus merupakan orang yang paling paham dan mengerti tentang seluk belum agama Islam, yaitu hukum dan syariat Islam.Sehingga dia tidak tersesat ketika menafsirkan tiap ayat Al-Quran.
Inilah munkin syarat mendasar bagi seorang mufassir sebagaimana yang dijelaskan oleh Syeikh Manna' Al-Qaththan dalam kitabnya, Mabahits fi 'Ulumil Quran.
B.    Etika Mufassir
Al-qur’an adalah kalammullah yang diturunkan kepada nabi muhammad lewat perantara malaikat Jibril sebagai mu’jizat. Al-Qur’an adalah sumber ilmu bagi kaum muslimin yang merupakan dasar-dasar hukum yang mencakup segala hal, baik aqidah, ibadah, etika, mu’amalah dan sebagainya. Seorang mufassir tidak cukup hanya menguasai ilmu-ilmu yang berkenaan dengan tafsir saja, melainkan ia pun dituntut untuk melakukannya dengan dibarengi hati yang jernih, yaitu ikhlas, niat yang baik dan takwa kepada Allah SWT.
Al-Zarkasyi mengemukakan pendapatnya dalam kitab Al-Burhan: “Ketahuilah bahwa memahami makna wahyu Ilahi tidak akan berhasil dan tidak akan mendapatkan rahasianya apabila di dalam hatinya ada kesombongan, hawa nafsu, cinta dunia, melakukannya demi perbuatan dosa, tidak mengetahui hakekat iman, mengambil pandangan orang lain tanpa dilandasi ilmu, atau cenderung menggunakan akalnya. Ini semua adalah penghalang yang harus disingkirkan dari dalam diri seorang mufassir.
Secara umum, ada dua etika yang harus dimiliki oleh seorang mufassir, yaitu:
1. Ikhlas, yakni berkenaan dengan unsur batin.
2. Beramal dan berakhlak mulia, yakni berhubungan dengan unsur
     lahir.
Sifat utama yang harus dimiliki oleh seorang mufassir adalah ikhlas. Ia berasumsi bahwa menjelaskan firman Allah sama artinya dengan menyampaikan risalah langit untuk para penghuni bumi. Ia berlindung kepada Allah dari setiap kesalahan dalam menafsirkan ayat-ayat-Nya. Kita mengetahui banyak sekali ulama yang dikenal sangat hati-hati dalam menuliskan tafsir, padahal mereka mempunyai kemampuan dalam memberikan penjelasan kepada orang lain.
Mereka takut terjerumus ke dalam kesalahan. Banyak di antara mereka yang melarang mengunakan takwil terhadap ayat-ayat al-Quran, padahal mereka mampu untuk melakukannya. Tetapi pada saat ini kita jarang menemukan ulama sepertiini. Hanya keikhlasanlah yang dapat membendungnya. Keikhlasan seorang Mukmin dapat mencegahnya dari perbuatan yang sembrono, sehingga, baik orang yang ahli maupun tidak, tidak akan berani sembarangan dalam memberikan penjelasan tentang al-Quran.
Hal ini disebabkan setiap penemuan baru tentang penjelasan al-Quran merupakan sesuatu yang mengkhawatirkan, berbeda halnya dengan penemuan baru tentang hukum hukum selain al-Quran, ia dipandang sebagai sebuah keberhasilan. Mungkin munkin akan timbul pertanyaan, bagaimana cara menilai keikhlasan seseorang, karena seperti yang kita ketahui bahwa keikhlasan merupakan aktivitas hati yang hanya diketahui oleh Allah SWT?. Disini di kemukakan: ya, memang demikian. Tetapi bukankah keikhlasan itu mempunyai tanda-tandanya, sebagaimana halnya riya? Orang yang melakukan sesuatu karena riya tidak akan bisa memberikan pelayanan yang baik dan langgeng terhadap umat manusia. Tulisan-tulisannya hanya akan menjadi bongkahan teori belaka tanpa mempunyai bekas sedikitpun pada pembacanya. Di sinilah letak rahasia sebuah keikhlasan dalam beramal, karena orang tidak hanya membaca dengan lisannya saja, melainkan juga dengan hatinya yang mempunyia perasaan yang sangat peka dan tajam: “Sifat seseorang meskipun disembunyikan akan tetap terlihat oleh orang lain.”
mulia, karena sifat merupakan sesuatu lahir atau tampak sehingga ini merupakan sebuah keharusan bagi seorang mufassir mengamalkan apa yang sudah ia pelajari dan kemukakan dalam tafsirnya, Demikian, Wa Allah A’lam.[]


NB: Syarat-syarat tambahan
1.    Mengetahui budaya & sosial bangsa Arab dikala Al-Qur’an turun
2.    Memahami dengean baik syair-syair arab
3.    Memiliki pengetahuan tentang teknologi dan perkembangan zaman

Syarat merupakan wilayah rasio (lahiriyah). Sedangkan etika termasuk ranah batin. Standar tafsir qur’an bil qur’an ialah kitab tafsir ibnu katsir.

Poskan Komentar