Minggu, 04 November 2012

Urgensi Ilmu Qiraat bagi Tafsir al-Quran


Urgensi Ilmu Qiraat bagi Tafsir al-Quran
Sudah banyak literatur tafsir yang bersumberkan riwayat dari ataupun sahabat. Tidak sedikit pula karya tafsir
yang mengacu pada pemahaman dan pendapat mufassir itu sendiri. Akan tetapi sedikit sekali dari literatur itu yang menafsirkan dari perbedaan cara baca.

As-Syeikh Thahir bin ‘Asyur menegaskan bahwa sudah seharusnya seorang mufassir menguasai ilmu qiraat dan perbedaan cara baca. Karena hal itu sangat membantu dalam memahami beberapa makna yang dikandung oleh suatu ayat. Boleh jadi banyaknya cara baca juga memiliki makna yang banyak pula.[1] Perbedaan cara baca suatu ayat juga mungkin dapat saling menafsiri satu sama lain seperti halnya ayat-ayat al-Quran.
Ilmu qiraat juga membantu ulama fiqh dalam menggali suatu hukum dari suatu ayat al-Quran. Dan hal ini yang menjadi hulu perbedaan pendapat dalam disiplin ilmu fiqh. Jadi disa dikata bahwa semua disiplin ilmu agama saling melengkapi dan membantu satu sama lain.
Dengan menerapkan cara penafsiran seperti ini, ilmu qiraat akan terjaga dan terlestarikan dengan sendirinya. Di bawah ini contoh beberapa perbedaan qiraat dalam surat al-Baqarah yang memiliki makna dan penafsiran berbeda.


[1] Abdul Hadi Dahani, al-Qiraat al-Mufassirah. h.4
Poskan Komentar